Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengeluarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060 melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 85.K/TL.01/MEM.L/2025. Kebijakan ini menjadi panduan transformasi sistem kelistrikan Indonesia menuju target Net Zero Emission pada 2060.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, RUKN ini disusun untuk mencapai tiga tujuan utama: ketahanan energi nasional, akses listrik merata, dan transisi energi bersih. “Kami menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 73,6% pada 2060, dengan emisi nol karbon tercapai satu tahun sebelumnya,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (24/3).
Target Utama RUKN 2025-2060
- Kapasitas Pembangkit:
- Daya mampu neto 443 GW pada 2060
- Komposisi:
• 41,5% pembangkit VRE (Variable Renewable Energy) + storage 34 GW
• 58,5% pembangkit dispatchable (non-VRE)
- Produksi Listrik:
- 1.947 TWh pada 2060
- Dominasi EBT sebesar 73,6% (49,5% energi terbarukan + 24,1% energi baru)
- Emisi Karbon:
- Nol emisi CO2 pada 2059
- Penggunaan teknologi CCS untuk pembangkit fosil
Strategi Utama Pengembangan Sistem Kelistrikan
1. Transisi Energi Terbarukan
- Biomassa: Cofiring di PLTU untuk substitusi batubara
- Retrofit Pembangkit Fosil:
• PLTU menggunakan 100% green NH3/Cfbio+CCS
• PLTG/GU menggunakan 100% green He/Gas+CCS - Pembangkit Baru:
• PLTS (termasuk floating & rooftop)
• PLTB, PLTP, dan PLTA skala besar
• PLTN di Kalimantan untuk produksi green H2
2. Pengembangan Supergrid Nasional
Interkoneksi Internal Pulau:
- Sumatera (Sumbagut-Sumbagsel)
- Sulawesi (Sulbagut-Sulbagsel)
- Kalimantan (looping)
- Papua (Jayapura-Sorong)
Interkoneksi Antarpulau:
- 2028: Sumatera-Batam
- 2029: Jawa-Bali
- 2031: Sumatera-Jawa
- 2035: Bali-Lombok-Sumbawa
- 2040: Jawa-Kalimantan
- 2045: Sumba-Sumbawa-Sulawesi
3. Proyeksi Kebutuhan Listrik
- 2025: 539 TWh (1.893 kWh/kapita)
- 2060: 1.813 TWh (5.038 kWh/kapita)
Komposisi:
• Industri 43%
• Rumah tangga 28%
• Kendaraan listrik 11%
• Bisnis 13%
• Publik 5%
Investasi dan Pembiayaan
- Total kebutuhan investasi 2025-2060:Â USD1,092 triliun
- Rata-rata tahunan:Â USD30,3 miliar
- Sektor:
• Pembangkit EBT
• Jaringan transmisi antarpulau
• Teknologi CCS dan storage
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan kesiapan BUMN listrik ini sebagai pelaksana utama RUKN. “Kami akan fokus pada pengembangan EBT, dedieselisasi, dan pembangunan infrastruktur pendukung seperti smart grid dan sistem penyimpanan energi,” jelas Darmawan.
Analis energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, menyambut baik kebijakan ini namun mengingatkan beberapa tantangan. “Implementasi CCS, pembiayaan proyek skala besar, dan koordinasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan RUKN,” ujarnya.
RUKN 2025-2060 ini berlaku efektif sejak ditandatangani Menteri Bahlil pada 5 Maret 2025, sekaligus menjadi revisi terhadap kebijakan sebelumnya untuk menyesuaikan dengan target Net Zero Emission yang lebih ambisius.












