LEBAK, Warga Berita – Pemerintah Indonesia menargetkan bahwa negara dengan ribuan pulau ini akan memasuki kondisi Net Zero Emission atau emisi nol bersih maksimal pada tahun 2060. Kondisi emisi nol itu ingin dicapai guna menjaga kelestarian lingkungan, salah satu upayanya yakni dengan beralih dari energi konvensional menuju enegri terbarukan.
Untuk mencapai emisi nol bersih tentunya membutuhkan kontribusi dari semua pihak baik itu dari sektor industri, pariwisata maupun masyarakat itu sendiri. Upaya itu pun turut dilakukan oleh salah satu Kedai Kopi rumahan yang berada di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Kedai Kopi itu yakni Skema Kopi, kedai kecil yang berada di peloksok perumahan ini secara konsisten terus mendukung upaya Pemerintah untuk mencapai Net Zero Emission. Caranya, yakni dengan mengkampanyekan slogan Electrifying Lifestyle.
Slogan itu sendiri saat ini tengah digemborkan oleh PLN sebagai perusahaan yang bertanggungjawab terhadap pemenuhan enegri listrik masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Kampanye Electrifying Lifestyle ini dilakukan bukan dengan memasang spanduk, atau baliho dipohon-pohon seperti yang dilakukan para Calon Legislatif (Caleg) yang saat ini tengah berkontestrasi Pemilu 2024.
Melainkan, caranya dengan menggunakan Kompor Induksi. Yap, kedai yang berada di kota berjulukan Bumi Multatuli ini telah bermigrasi dari kompor konvensional gas melon 3 kilogram (kg) menjadi kompor induksi dalam setiap produksi kopi mereka. Bahkan, kedai ini sudah mempunyai dua kompor induksi yang memiliki tugas menghasilkan produk pemuas dahaga kafein para konsumennya.
Untuk diketahui, kedai kopi ini berdiri sejak akhir tahun 2020 yang beralamat di Jalan Bidin Surya Gunawan No.12, Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Kedai kopi ini didirikan oleh tiga orang pentolan karyawan korban Pandemi Covid-19.
Alvin, salah satu Owner dari Skema Kopi Rangkasbitung ini mengaku bahwa kedainya sengaja memilih kompor induksi dibandingkan kompor konvensional dalam membuat kopi. Terdapat berbagai alasan yang membuat kedai nya secara konsisten menggunakan kompor induksi selama tiga tahun membuka kedai kopi.
“Awalnya kita menggunakan kompor konvensional untuk melakukan produksi, namun seiiring berjalannya waktu kita sadar bahwa kompor gas ini tidak lah efektif untuk menunjang produksi sehari-hari,” kata Alvin kepada Radar Banten, Jumat 29 Desember 2023.
Ia bercerita bahwa saat menggunakan kompor konvensional, dirinya harus mengganti tabung gas ukuran tiga kilogram minimalnya tiga kali dalam seminggu. Tentu, hal itu sangatlah tidak efektif, karena selain harga gas yang mahal juga kadang sulit ditemukan, belum lagi faktor keamanan.
Alvin menyebut, kompor gas sangatlah rawan dan beresiko tinggi. Sebagai contoh, Alvin menceritakan bahwa di daerah nya terdapat kasus ledakan hebat disebuah warung makan yang disebabkan oleh kebocoran gas pada tabung elpiji.
Ledakan hebat itu telah merengut nyawa seorang penjaga warung itu, belum lagi dampak kerusakan yang meluluhlantahkan warung tersebut. Dari kasus itu, dirinya pun membulatkan pilihannya untuk bermigrasi ke kompor induksi.
Sebab, dirinya tidak ingin membahayakan barista dan usaha yang susah payah dirinya buka bersama dengan rekan sejawatnya itu pasca terkena gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu itu.
“Barista saya juga sebetulnya takut untuk masang gas, jadi kalau misalkan gas elpijinya abis. Ya saya sendiri yang pasang, kedai juga ga bisa operasional kalau gas elpijinya engga saya ganti. Jadi intinya kurang efektif dan resikonya terlalu tinggi, karena engga ada jaminan kalau saya yang masang gas itu enggak meledak,” tuturnya.
LEBAK, Warga Berita – Pemerintah Indonesia menargetkan bahwa negara dengan ribuan pulau ini akan memasuki kondisi Net Zero Emission atau emisi nol bersih maksimal pada tahun 2060. Kondisi emisi nol itu ingin dicapai guna menjaga kelestarian lingkungan, salah satu upayanya yakni dengan beralih dari energi konvensional menuju enegri terbarukan.
Untuk mencapai emisi nol bersih tentunya membutuhkan kontribusi dari semua pihak baik itu dari sektor industri, pariwisata maupun masyarakat itu sendiri. Upaya itu pun turut dilakukan oleh salah satu Kedai Kopi rumahan yang berada di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Kedai Kopi itu yakni Skema Kopi, kedai kecil yang berada di peloksok perumahan ini secara konsisten terus mendukung upaya Pemerintah untuk mencapai Net Zero Emission. Caranya, yakni dengan mengkampanyekan slogan Electrifying Lifestyle.
Slogan itu sendiri saat ini tengah digemborkan oleh PLN sebagai perusahaan yang bertanggungjawab terhadap pemenuhan enegri listrik masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Kampanye Electrifying Lifestyle ini dilakukan bukan dengan memasang spanduk, atau baliho dipohon-pohon seperti yang dilakukan para Calon Legislatif (Caleg) yang saat ini tengah berkontestrasi Pemilu 2024.
Melainkan, caranya dengan menggunakan Kompor Induksi. Yap, kedai yang berada di kota berjulukan Bumi Multatuli ini telah bermigrasi dari kompor konvensional gas melon 3 kilogram (kg) menjadi kompor induksi dalam setiap produksi kopi mereka. Bahkan, kedai ini sudah mempunyai dua kompor induksi yang memiliki tugas menghasilkan produk pemuas dahaga kafein para konsumennya.
Untuk diketahui, kedai kopi ini berdiri sejak akhir tahun 2020 yang beralamat di Jalan Bidin Surya Gunawan No.12, Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Kedai kopi ini didirikan oleh tiga orang pentolan karyawan korban Pandemi Covid-19.
Alvin, salah satu Owner dari Skema Kopi Rangkasbitung ini mengaku bahwa kedainya sengaja memilih kompor induksi dibandingkan kompor konvensional dalam membuat kopi. Terdapat berbagai alasan yang membuat kedai nya secara konsisten menggunakan kompor induksi selama tiga tahun membuka kedai kopi.
“Awalnya kita menggunakan kompor konvensional untuk melakukan produksi, namun seiiring berjalannya waktu kita sadar bahwa kompor gas ini tidak lah efektif untuk menunjang produksi sehari-hari,” kata Alvin kepada Radar Banten, Jumat 29 Desember 2023.
Ia bercerita bahwa saat menggunakan kompor konvensional, dirinya harus mengganti tabung gas ukuran tiga kilogram minimalnya tiga kali dalam seminggu. Tentu, hal itu sangatlah tidak efektif, karena selain harga gas yang mahal juga kadang sulit ditemukan, belum lagi faktor keamanan.
Alvin menyebut, kompor gas sangatlah rawan dan beresiko tinggi. Sebagai contoh, Alvin menceritakan bahwa di daerah nya terdapat kasus ledakan hebat disebuah warung makan yang disebabkan oleh kebocoran gas pada tabung elpiji.
Ledakan hebat itu telah merengut nyawa seorang penjaga warung itu, belum lagi dampak kerusakan yang meluluhlantahkan warung tersebut. Dari kasus itu, dirinya pun membulatkan pilihannya untuk bermigrasi ke kompor induksi.
Sebab, dirinya tidak ingin membahayakan barista dan usaha yang susah payah dirinya buka bersama dengan rekan sejawatnya itu pasca terkena gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu itu.
“Barista saya juga sebetulnya takut untuk masang gas, jadi kalau misalkan gas elpijinya abis. Ya saya sendiri yang pasang, kedai juga ga bisa operasional kalau gas elpijinya engga saya ganti. Jadi intinya kurang efektif dan resikonya terlalu tinggi, karena engga ada jaminan kalau saya yang masang gas itu enggak meledak,” tuturnya.












