Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, terus melakukan revitalisasi lahan bekas rob menjadi lahan pertanian atau persawahan sebagai upaya mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid di Pekalongan, Kamis (15/5/2025), mengatakan bahwa sejak 10 tahun terakhir ini masih banyak lahan khususnya di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara terdampak oleh rob sehingga lahan tidak bisa ditanami padi.
“Akan tetapi, lahan sawah yang sudah 10 tahunan tidak produktif ini seiring dengan dibangunnya tanggul penahan banjir dan rob, serta dukungan dari semua pihak baik Kodim 0710/Pekalongan dan Bank Indonesia akhirnya para kelompok tani kembali bisa menanam padi lagi di lahan eks rob,” katanya.
Dukungan Multi-Pihak dalam Revitalisasi Lahan
Menurut dia, pihaknya mengapresiasi peran Bank Indonesia yang telah mendukung program capacity building dan demplot padi biosalin seluas 1,5 hektare di wilayah Kelurahan Degayu.
Selain itu, kata dia, pihaknya menyampaikan terima kasih kepada Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Biogen Kementerian Pertanian dan TNI atas dukungan benih biosalin dan pendampingan teknis.
“Berkat kesuksesan demplot ini, luas tanam biosalin di Kelurahan Degayu kini mencapai 33 hektare dan bisa berpotensi bertambah hingga 95 hektare untuk musim tanam mendatang. Kualitas padi biosalin ini memang bagus karena dirancang tahan dengan air payau,” katanya.
Bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan
Pelaksana Harian Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Andi Reina Sari mengatakan dukungan BI terhadap program ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.
“Program ini merupakan pilot project pertama yang diharapkan dapat diterapkan di daerah lain yang menghadapi masalah salinitas,” katanya.
Menurut dia, pihaknya memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka dalam budi daya padi Biosalin.
“Ke depan, BI akan terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung keberhasilan program ini dan mengembangkannya di daerah lain karena komoditas beras ini memang bobotnya tinggi terhadap inflasi sehingga menjadi prioritas kami dalam rangka mendukung peningkatan produksinya,” katanya.
Inovasi Teknologi Pertanian untuk Lahan Pesisir
Program revitalisasi lahan bekas rob di Pekalongan menunjukkan bahwa inovasi teknologi pertanian dapat mengatasi tantangan dalam produksi pangan di wilayah pesisir. Padi biosalin merupakan varietas unggul yang dikembangkan khusus untuk dapat tumbuh di lahan dengan kadar garam tinggi akibat intrusi air laut.
Keberhasilan program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi beras lokal, tetapi juga pada pemulihan ekonomi petani yang lahannya terdampak rob selama bertahun-tahun. Dengan bertambahnya luas area tanam padi biosalin, diharapkan Kota Pekalongan dapat berkontribusi lebih signifikan terhadap ketahanan pangan nasional.
Potensi Perluasan dan Replikasi Program
Melihat keberhasilan program di Kelurahan Degayu, pemerintah kota berencana memperluas program ini ke area lain di Pekalongan yang mengalami masalah serupa. Dengan total potensi lahan mencapai 95 hektare untuk musim tanam mendatang, program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah pesisir lain di Indonesia yang menghadapi tantangan intrusi air laut.












