SERANG,Warga Berita-Perolehan investasi di Provinsi Banten membawa dampak positif bagi penyerapan tenaga kerja.
Di tahun ini, tercatat terdapat 94 ribu lebih tenaga kerja Indonesia yang berhasil terserap berkat investasi di Banten.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten mencatat realisasi investasi di Banten menunjukan pertumbuhan positif.
Hingga September 2023, realisasi investasi sudah menembus Rp78 Triliun (T).
Jumlah itu sudah melewati target daerah yang ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten yakni Rp60 Triliun.
“Alhamdulillah perolehan investasi kita terus meningkat setiap tahunnya, dan di tahun ini kita catat dari perolehan investasi Rp78 Trilliun, penyerapan tenaga kerja kita mencapai 94.955 orang,” kata Kepala DPMPTSP Banten Virgojanti, Senin 4 Desember 2023.
Ia menyebut perolehan investasi tentunya akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Untuk itu, pihaknya pun akan terus mendorong perolehan investasi di Banten agar bisa menyerap tenaga kerja sehingga masalah pengangguran di tanah Jawara ini bisa teratasi.
“Kita juga terus mengingatkan dan mendorong agar para pengusaha yang berinvestasi di Banten ini untuk menyerap tenaga kerja lokal. Artinya tenaga kerja asal Banten,” ujarnya.
Virgo menambahkan, sektor industri kimia dan farmasi disebut sebagai sektor penyumbang investasi terbesar di Provinsi Banten. Pihaknya mencatat, dari perolehan investasi sebesar Rp78 Triliun itu , 29,80 persennya disumbang oleh sektor kimia dan farmasi yang mencapai Rp23,43 Triliun dengan 1.302 proyek.
Disusul sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran dengan perolehan investasi mencapai Rp.14,00 Triliun (17,81%).
Lalu sektor listrik, air dan gas sebesar Rp6,91 T (8,79%), jasa transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp6,47 T (8,24%) dan jasa lainnya sebesar Rp5,00 T (6,37%) dengan 3.320 proyek.
“Banten secara nasional memang betul mayoritas usaha-usaha besar industri hulu untuk industri kimia ini banyak dibaca, nah tentunya ke depan kita ingin ke depan akan ada hilirsasi. Jadi jangan hanya bahan baku saja, tapi dari setengah menjadi barang jadi, misalnya industri biji besi, plastik dan bahan tekstil,” ujar Virgojanti.
Berdasarkan daerah, realisasi investasi terbesar disumbang paling besar oleh Kota Cilegon yang mencapai Rp28,15 Triliun, disusul oleh Kabupaten Tangerang sebesar Rp22,84 Triliun, Kota Tangerang sebesar Rp12,35 Triliun, Kabupaten Serang sebesar Rp7,34 Triliun.
Kota Tangerang Selatan sebesar Rp5,97 Triliun, Kabupten Lebak sebesar Rp1,26 Triliun, Kabupaten Pandeglang sebesar Rp502 Miliar, dan Kota Serang sebesar Rp209 Miliar.
Virgo mengatakan, Pemprov Banten terus mendorong pertumbuhan ekonomi di setiap daerahnya. Namun, pihaknya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi industri haruslah memerhatikan wawasan lingkungan.
“Semua usaha harus berwawasan lingkungan, karena kan ada persyaratannya, apalagi industri yang memiliki resiko tinggi. Nah itu harus ada kajiannya mulai dari bagaimana mitigasi bencananya, bagaimana perlindungan dan bagaimana dampak pencemaran dan sebagainya. Jadi kita tetap tekankan bagaimana perusahaan yang berinvestasi di Banten itu tetap menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi
SERANG,Warga Berita-Perolehan investasi di Provinsi Banten membawa dampak positif bagi penyerapan tenaga kerja.
Di tahun ini, tercatat terdapat 94 ribu lebih tenaga kerja Indonesia yang berhasil terserap berkat investasi di Banten.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten mencatat realisasi investasi di Banten menunjukan pertumbuhan positif.
Hingga September 2023, realisasi investasi sudah menembus Rp78 Triliun (T).
Jumlah itu sudah melewati target daerah yang ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten yakni Rp60 Triliun.
“Alhamdulillah perolehan investasi kita terus meningkat setiap tahunnya, dan di tahun ini kita catat dari perolehan investasi Rp78 Trilliun, penyerapan tenaga kerja kita mencapai 94.955 orang,” kata Kepala DPMPTSP Banten Virgojanti, Senin 4 Desember 2023.
Ia menyebut perolehan investasi tentunya akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Untuk itu, pihaknya pun akan terus mendorong perolehan investasi di Banten agar bisa menyerap tenaga kerja sehingga masalah pengangguran di tanah Jawara ini bisa teratasi.
“Kita juga terus mengingatkan dan mendorong agar para pengusaha yang berinvestasi di Banten ini untuk menyerap tenaga kerja lokal. Artinya tenaga kerja asal Banten,” ujarnya.
Virgo menambahkan, sektor industri kimia dan farmasi disebut sebagai sektor penyumbang investasi terbesar di Provinsi Banten. Pihaknya mencatat, dari perolehan investasi sebesar Rp78 Triliun itu , 29,80 persennya disumbang oleh sektor kimia dan farmasi yang mencapai Rp23,43 Triliun dengan 1.302 proyek.
Disusul sektor Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran dengan perolehan investasi mencapai Rp.14,00 Triliun (17,81%).
Lalu sektor listrik, air dan gas sebesar Rp6,91 T (8,79%), jasa transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp6,47 T (8,24%) dan jasa lainnya sebesar Rp5,00 T (6,37%) dengan 3.320 proyek.
“Banten secara nasional memang betul mayoritas usaha-usaha besar industri hulu untuk industri kimia ini banyak dibaca, nah tentunya ke depan kita ingin ke depan akan ada hilirsasi. Jadi jangan hanya bahan baku saja, tapi dari setengah menjadi barang jadi, misalnya industri biji besi, plastik dan bahan tekstil,” ujar Virgojanti.
Berdasarkan daerah, realisasi investasi terbesar disumbang paling besar oleh Kota Cilegon yang mencapai Rp28,15 Triliun, disusul oleh Kabupaten Tangerang sebesar Rp22,84 Triliun, Kota Tangerang sebesar Rp12,35 Triliun, Kabupaten Serang sebesar Rp7,34 Triliun.
Kota Tangerang Selatan sebesar Rp5,97 Triliun, Kabupten Lebak sebesar Rp1,26 Triliun, Kabupaten Pandeglang sebesar Rp502 Miliar, dan Kota Serang sebesar Rp209 Miliar.
Virgo mengatakan, Pemprov Banten terus mendorong pertumbuhan ekonomi di setiap daerahnya. Namun, pihaknya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi industri haruslah memerhatikan wawasan lingkungan.
“Semua usaha harus berwawasan lingkungan, karena kan ada persyaratannya, apalagi industri yang memiliki resiko tinggi. Nah itu harus ada kajiannya mulai dari bagaimana mitigasi bencananya, bagaimana perlindungan dan bagaimana dampak pencemaran dan sebagainya. Jadi kita tetap tekankan bagaimana perusahaan yang berinvestasi di Banten itu tetap menjaga kelestarian lingkungan,” pungkasnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi










