SERANG,Warga Berita – Pasangan capres cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD dinilai sosok yang tepat untuk keberlangsungan demokrasi dan penegakkan hukum di Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan oleh tokoh masyarakat Banten, KH Amas Tajuddin. Menurutnya, dua pasangan capres cawapres lain juga merupakan sosok yang ideal bagi bangsa Indonesia ke depan.
“Saya pikir semua juga sosok ideal karena sudah diproses melalui KPU dan sudah terbit dan soal yang terbaik dari ketiga calon itu ada walaupun cuma sedikit bedanya tapi ada yang terbaik yang harus dipilih,” ujar Amas pada acara Fokcus Group Discussion atau FGD terkait Calon Presiden dan Wakil Presiden 2024, Kamis 14 Desember 2023.
Amas menjelaskan, ketiga pasangan capres cawapres yang sudah ditetapkan oleh KPU merupakan tokoh yang layak memimpin Indonesia. Namun, kata dia, dalam demokrasi terdapat sosok terbaik di Warga Berita yang baik harus dipilih untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan.
“Tentu yang dipilih yang paling baik di Warga Berita ketiga calon tersebut, saya kira itu maknanya agar ke depan Indonesia tidak lagi mengalami hambatan-hambatan berarti dalam proses pembangunan ke depan yang lebih maju,” jelasnya.
Amas menilai, sosok yang tepat untuk keberlangsungan demokrasi dan penegakkan hukum di Indonesia adalah pasangan Ganjar-Mahfud.
Pasalnya, Ganjar-Mahfud dianggap memiliki pengalaman yang mumpuni untuk urusan keadilan sosial dan penegakkan hukum.
“Saya bukan dalam posisi kampanye jadi tidak bisa menjawab siapa yang harus saya pilih. Tapi, dari ketiga calon ini tentu profilnya demokrasi harus dilakukan seluas-luasnya dengan pendekatan hukum, dan itu Prof Mahfud MD sudah teruji kualitas soal penegakan hukum yang dia lakukan,” katanya.
Sementara, Peneliti Senior Populi Center Usep Saepul Ahyar menilai, pada Pilpres 2024 pemilih milenial atau Gen-Z mencapai 51 persen dari seluruh jumlah pemilih. Gen-Z dinilai dapat menjadi penentu kemenangan pada Pilpres 2024.
“Memang harus dibawa pemilih-pemilih pemula ini ke pemilih yang lebih rasional agar menghasilkan pemimpin yang lebih baik didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Jadi, pemilih-pemilih rasional itu ya pemilih yang memang mempertimbangkan kondisi apa yang harus dihadapi, lalu kemudian memilih pemimpin yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa,” tuturnya.
Usep menuturkan, memilih calon pemimpin dapat menggunakan pendekatan emosional. Hal ini dianggap masih mendominasi di Indonesia.
Ia juga berharap, pemilih pemula harus lebih kritis dalam menentukan pilihannya pada Pilpres 2024. Apabila pemilih milenial ini menggunakan pendekatan rasional, proses demokrasi dinilai selangkah lebih maju.
“Jadi menurut saya harus lebih mengkritisi pada persoalan-persoalan yang akan dikerjakan oleh ketiga capres ini. Menurut saya, itu lebih maju dari pada hanya persoalan-persoalan yang sifatnya emosional yang mana di Indonesia saat ini lebih mendominasi pemilih atau perilaku politik kita,” ujarnya.
Editor : Merwanda
SERANG,Warga Berita – Pasangan capres cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD dinilai sosok yang tepat untuk keberlangsungan demokrasi dan penegakkan hukum di Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan oleh tokoh masyarakat Banten, KH Amas Tajuddin. Menurutnya, dua pasangan capres cawapres lain juga merupakan sosok yang ideal bagi bangsa Indonesia ke depan.
“Saya pikir semua juga sosok ideal karena sudah diproses melalui KPU dan sudah terbit dan soal yang terbaik dari ketiga calon itu ada walaupun cuma sedikit bedanya tapi ada yang terbaik yang harus dipilih,” ujar Amas pada acara Fokcus Group Discussion atau FGD terkait Calon Presiden dan Wakil Presiden 2024, Kamis 14 Desember 2023.
Amas menjelaskan, ketiga pasangan capres cawapres yang sudah ditetapkan oleh KPU merupakan tokoh yang layak memimpin Indonesia. Namun, kata dia, dalam demokrasi terdapat sosok terbaik di Warga Berita yang baik harus dipilih untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan.
“Tentu yang dipilih yang paling baik di Warga Berita ketiga calon tersebut, saya kira itu maknanya agar ke depan Indonesia tidak lagi mengalami hambatan-hambatan berarti dalam proses pembangunan ke depan yang lebih maju,” jelasnya.
Amas menilai, sosok yang tepat untuk keberlangsungan demokrasi dan penegakkan hukum di Indonesia adalah pasangan Ganjar-Mahfud.
Pasalnya, Ganjar-Mahfud dianggap memiliki pengalaman yang mumpuni untuk urusan keadilan sosial dan penegakkan hukum.
“Saya bukan dalam posisi kampanye jadi tidak bisa menjawab siapa yang harus saya pilih. Tapi, dari ketiga calon ini tentu profilnya demokrasi harus dilakukan seluas-luasnya dengan pendekatan hukum, dan itu Prof Mahfud MD sudah teruji kualitas soal penegakan hukum yang dia lakukan,” katanya.
Sementara, Peneliti Senior Populi Center Usep Saepul Ahyar menilai, pada Pilpres 2024 pemilih milenial atau Gen-Z mencapai 51 persen dari seluruh jumlah pemilih. Gen-Z dinilai dapat menjadi penentu kemenangan pada Pilpres 2024.
“Memang harus dibawa pemilih-pemilih pemula ini ke pemilih yang lebih rasional agar menghasilkan pemimpin yang lebih baik didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang rasional. Jadi, pemilih-pemilih rasional itu ya pemilih yang memang mempertimbangkan kondisi apa yang harus dihadapi, lalu kemudian memilih pemimpin yang bisa menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa,” tuturnya.
Usep menuturkan, memilih calon pemimpin dapat menggunakan pendekatan emosional. Hal ini dianggap masih mendominasi di Indonesia.
Ia juga berharap, pemilih pemula harus lebih kritis dalam menentukan pilihannya pada Pilpres 2024. Apabila pemilih milenial ini menggunakan pendekatan rasional, proses demokrasi dinilai selangkah lebih maju.
“Jadi menurut saya harus lebih mengkritisi pada persoalan-persoalan yang akan dikerjakan oleh ketiga capres ini. Menurut saya, itu lebih maju dari pada hanya persoalan-persoalan yang sifatnya emosional yang mana di Indonesia saat ini lebih mendominasi pemilih atau perilaku politik kita,” ujarnya.
Editor : Merwanda










