PANDEGLANG, Warga Berita – Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Pandeglang merespons positif hasil studi Aktion Deutschland Hilft (ADRA) dari Jerman mengenai kesiapsiagaan bencana darurat.
Studi tersebut melibatkan empat daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Pandeglang, khususnya di Kecamatan Patia.
Dalam penelitian tersebut, ADRA mengkaji respon Pemerintah Daerah dan Stakeholder terkait status siaga darurat bencana di empat kabupaten, yaitu Kupang (NTT), Bima (NTB), Sigi (Sulawesi Tengah), dan Pandeglang (Banten).
BPBD-PK Pandeglang memberikan tanggapan positif terhadap hasil studi ADRA, mengakui nilai pentingnya untuk mengantisipasi potensi bencana di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Strategi pada BPBD-PK Pandeglang, Acep Firmansyah menyatakan dukungan penuh terhadap studi ADRA, terutama dalam konteks kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir di Kecamatan Patia.
Acep Firmansyah mengungkapkan, bahwa di Kecamatan Patia, fokus utama adalah potensi banjir. Namun, secara keseluruhan di Kabupaten Pandeglang, terdapat 14 jenis potensi bencana, termasuk gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan tsunami yang pernah terjadi.
“Penting untuk diakui bahwa potensi bencana di Pandeglang sangat beragam, dan dalam konteks Patia, prioritas utama adalah penanggulangan banjir,” ungkapnya saat diwawancarai Warga Berita, Jumat 19 Januari 2024.
BPBD-PK Pandeglang telah melakukan langkah-langkah mitigasi, baik struktural maupun non-struktural. Studi ADRA lebih fokus pada mitigasi non-struktural, seperti pengecekan terhadap masyarakat dan persiapan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah hingga tingkat masyarakat.
Acep Firmansyah menambahkan bahwa BPBD-PK Pandeglang telah melaksanakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana tersebut.
Selain itu, upaya mitigasi lainnya, seperti pembangunan dinding pemecah gelombang di daerah Sumur untuk mengurangi risiko tsunami, juga telah dilakukan.
“Ya mulai dari gempa bumi banjir tanah longsor dan tsunami pernah terjadi, jadi lengkap kalau di Kabupaten Pandeglang dan untuk di Patia sendiri yang paling prioritas utama banjir,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Warga Berita, dari BPBD-PK Pandeglang, luas wilayah yang terdampak banjir di Kabupaten Pandeglang mencakup beberapa kecamatan, dengan rincian sebagai berikut: Kecamatan Patia 3.178 hektar, Kecamatan Saketi 765 hektar, Kecamatan Sukaresmi 4.172 hektar, Kecamatan Sobang 2.640 hektar, Kecamatan Sindangresmi 1.900 hektar, dan Kecamatan Picung 451 hektar.
PANDEGLANG, Warga Berita – Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-PK) Pandeglang merespons positif hasil studi Aktion Deutschland Hilft (ADRA) dari Jerman mengenai kesiapsiagaan bencana darurat.
Studi tersebut melibatkan empat daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Pandeglang, khususnya di Kecamatan Patia.
Dalam penelitian tersebut, ADRA mengkaji respon Pemerintah Daerah dan Stakeholder terkait status siaga darurat bencana di empat kabupaten, yaitu Kupang (NTT), Bima (NTB), Sigi (Sulawesi Tengah), dan Pandeglang (Banten).
BPBD-PK Pandeglang memberikan tanggapan positif terhadap hasil studi ADRA, mengakui nilai pentingnya untuk mengantisipasi potensi bencana di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Strategi pada BPBD-PK Pandeglang, Acep Firmansyah menyatakan dukungan penuh terhadap studi ADRA, terutama dalam konteks kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir di Kecamatan Patia.
Acep Firmansyah mengungkapkan, bahwa di Kecamatan Patia, fokus utama adalah potensi banjir. Namun, secara keseluruhan di Kabupaten Pandeglang, terdapat 14 jenis potensi bencana, termasuk gempa bumi, banjir, tanah longsor, dan tsunami yang pernah terjadi.
“Penting untuk diakui bahwa potensi bencana di Pandeglang sangat beragam, dan dalam konteks Patia, prioritas utama adalah penanggulangan banjir,” ungkapnya saat diwawancarai Warga Berita, Jumat 19 Januari 2024.
BPBD-PK Pandeglang telah melakukan langkah-langkah mitigasi, baik struktural maupun non-struktural. Studi ADRA lebih fokus pada mitigasi non-struktural, seperti pengecekan terhadap masyarakat dan persiapan yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah hingga tingkat masyarakat.
Acep Firmansyah menambahkan bahwa BPBD-PK Pandeglang telah melaksanakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana tersebut.
Selain itu, upaya mitigasi lainnya, seperti pembangunan dinding pemecah gelombang di daerah Sumur untuk mengurangi risiko tsunami, juga telah dilakukan.
“Ya mulai dari gempa bumi banjir tanah longsor dan tsunami pernah terjadi, jadi lengkap kalau di Kabupaten Pandeglang dan untuk di Patia sendiri yang paling prioritas utama banjir,” katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Warga Berita, dari BPBD-PK Pandeglang, luas wilayah yang terdampak banjir di Kabupaten Pandeglang mencakup beberapa kecamatan, dengan rincian sebagai berikut: Kecamatan Patia 3.178 hektar, Kecamatan Saketi 765 hektar, Kecamatan Sukaresmi 4.172 hektar, Kecamatan Sobang 2.640 hektar, Kecamatan Sindangresmi 1.900 hektar, dan Kecamatan Picung 451 hektar.












