Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar terpilih, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa hubungan dekat antara pimpinan Partai Golkar dengan pemerintah bukanlah hal baru dalam sejarah partai berlambang pohon beringin tersebut. Dalam pidato visi dan misinya pada Musyawarah Nasional (Munas) XI Partai Golkar di Jakarta Convention Center, Rabu (21/8), Bahlil menyatakan bahwa sejak era Jusuf Kalla hingga Airlangga Hartarto, Ketua Umum Golkar selalu memiliki hubungan erat dengan pemerintah.
Bahlil menepis anggapan yang menyatakan bahwa dirinya berhasil menjadi Ketua Umum Golkar hanya karena kedekatannya dengan pemerintah saat ini. Ia menegaskan bahwa kedekatan antara pimpinan Golkar dan pemerintah sudah menjadi tradisi yang panjang dalam partai tersebut.
“Kenapa calon-calon terdahulu dinyatakan tidak salah, kok saya dinyatakan salah?” ujar Bahlil dalam pidatonya. Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa pemimpin-pemimpin Golkar sebelumnya juga mendapatkan dukungan dari pemerintah yang berkuasa saat itu.
Sejarah Ketua Umum Golkar dan Kedekatan dengan Pemerintah
Bahlil mengingatkan bahwa pada Munas Golkar 2004 di Bali, Jusuf Kalla terpilih sebagai Ketua Umum karena kedekatannya dengan pemerintah saat itu. Jusuf Kalla menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang memberikan dukungan kepadanya dalam persaingan dengan Akbar Tandjung.
Selanjutnya, pada Munas berikutnya, Aburizal Bakrie (Ical) terpilih sebagai Ketua Umum dengan dukungan dari Presiden SBY, mengalahkan Surya Paloh yang didukung oleh Jusuf Kalla. Kemudian, Setya Novanto memenangkan Munaslub Golkar setelah mendapatkan dukungan dari Presiden Joko Widodo, di mana saat itu Setya menjabat sebagai Ketua DPR.
Bahlil juga menyoroti bahwa Airlangga Hartarto, pendahulunya, menjadi Ketua Umum Partai Golkar berkat kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo saat menjabat sebagai Menteri Perindustrian.
Pengesahan Bahlil sebagai Ketua Umum
Setelah menyampaikan pidatonya, Bahlil disetujui oleh peserta Munas XI Partai Golkar untuk menjadi Ketua Umum baru Partai Golkar. Ia juga diberikan status sebagai ketua formatur, yang memiliki kewenangan penuh untuk menyusun kepengurusan pusat partai secara mandiri.
Penutupan Munas XI Partai Golkar dijadwalkan berlangsung pada pukul 18.30 WIB, dengan rencana kehadiran Presiden Joko Widodo dan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Pada kesempatan tersebut, Bahlil akan secara resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Golkar yang baru.
Dengan terpilihnya Bahlil, Partai Golkar kembali melanjutkan tradisi kedekatan antara pucuk pimpinannya dengan pemerintah, sebuah pola yang telah terbukti kuat dalam sejarah politik partai ini.











