Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima menyerukan pentingnya memperkuat moderasi beragama di kalangan pemuda Indonesia. Seruan ini disampaikan dalam sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang dihadiri oleh pemuda dari berbagai latar belakang agama di Solo, Jawa Tengah, Selasa (21/5/2025).
“Saya sampaikan terutama soal moderasi beragama. Dalam hal ini, umat beragama menjadi komponen yang selalu memberikan kekuatan pada aspek persatuan,” kata Aria Bima di sela-sela kegiatan sosialisasi tersebut.
Rangkul Pemuda Lintas Agama
Dalam sosialisasi tersebut, Aria Bima mengundang pemuda dari berbagai kalangan, termasuk dari Gereja Kristen Jawa dan Gereja Katolik, untuk diberikan pemahaman mendalam tentang Empat Pilar Kebangsaan. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Muayyad selama bulan Ramadan.
“Kemarin setelah dari Al Muayyad waktu Ramadan, juga saya lakukan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan,” jelasnya.
Melalui pendekatan inklusif ini, Aria Bima berharap tercipta kehidupan masyarakat yang rukun, damai, dan tenteram di tengah keberagaman yang ada.
“Itu sebagaimana pemahaman agama dan Pancasila itu nyambung, atau lebih tepatnya bagaimana pemahaman moderasi agama yang sudah menjadi tradisi di Kota Solo yang harus makin diperkuat oleh anak-anak muda,” ujarnya.
Waspadai Konten Provokatif di Media Sosial
Pada kesempatan yang sama, Aria Bima juga menyoroti kebiasaan generasi muda saat berselancar di internet, khususnya aktivitas mereka di media sosial terkait isu-isu keagamaan. Ia mengkhawatirkan fenomena konten-konten yang justru mempertajam perbedaan agama alih-alih memperkuat moderasi.
“Generasi Z ketika di media sosial banyak narasi yang tidak memperkuat moderasi tapi mempertajam perbedaan agama, dan itu justru diperoleh dari dunia maya,” tegasnya.
Ia mencontohkan kasus konten mualaf yang sering difasilitasi oleh media sosial, yang kemudian mendorong warganet untuk cenderung menjelek-jelekkan agama lain atau agama yang sebelumnya mereka anut.
“Ini membahayakan bagi persatuan dan kesatuan. Sekarang makin banyak konten yang tidak mau memoderasi agama tapi mempertajam perbedaan, hanya untuk engagement atau followers, kemudian jadi konten yang menarik,” kata Wakil Ketua Komisi II DPR RI tersebut.
Ajakan untuk Saling Menghormati
Menanggapi fenomena tersebut, Aria Bima mengajak para peserta sosialisasi untuk berperan aktif dalam memberikan komentar dan kritik yang menekankan prinsip “agamamu agamamu dan agamaku agamaku” sebagai pondasi dalam kehidupan sosial.
“Ini jadi pondasi dalam kehidupan sosial. Itu saya sampaikan di mana-mana,” pungkasnya.












