Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mencatat tanggul jebol di tiga desa, menyusul curah hujan tinggi di daerah hulu yang mengakibatkan genangan banjir di beberapa tempat.
“Lokasi tanggul sungai yang jebol tersebar di tiga desa. Yakni di Desa Ketitang Wetan dan Desa Ngening (Kecamatan Batangan) serta di Desa Sidoarum (Kecamatan Jakenan),” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pati Sutarno di Pati, Selasa (21/5/2025).
Kronologi Tanggul Jebol dan Penanganannya
Sutarno mengungkapkan jebolnya ketiga tanggul tersebut terjadi setelah sejak Senin (19/5) sore turun hujan dengan intensitas tinggi, sehingga mengakibatkan naiknya debit air sungai di tiga lokasi tersebut dan mengakibatkan tanggul jebol.
Mengetahui adanya tanggul yang jebol, BPBD Pati langsung menerjunkan tim untuk melakukan perbaikan sementara di Desa Sidoarum menggunakan trucuk bambu dan karung plastik yang diisi dengan tanah maupun pasir.
“Hal itu sudah dilakukan dan hari ini (20/5) bambu sudah terpasang di tanggul sungai di Desa Sidoarum. Sedangkan di Desa Ngening sudah didatangi tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana bersama Dinas Pekerjaan Umum,” jelasnya.
Untuk penanganan di Desa Ketitang Wetan, Sutarno menambahkan bahwa camat setempat juga sudah meminta karung plastik untuk penanganan sementara. “Hanya saja, kami belum mengetahui pasti penanganan yang dilakukan,” ujarnya.
Dampak di Kecamatan Batangan
Camat Batangan Sujono mengonfirmasi bahwa di wilayahnya terdapat dua tanggul yang jebol, yakni di Desa Ketitang Wetan sepanjang 8 meter dan Desa Ngening sepanjang 2 meter pada Sungai Gandam dan Widodaren.
Pada Senin (19/5) sore, wilayah Batangan mengalami hujan yang cukup lama sehingga mengakibatkan meluapnya Sungai Gandam di Desa Ketitang Wetan dan Desa Ngening. Hal ini membuat aliran air di sepanjang Sungai Widodaren melampaui sebagian tanggul, yang akhirnya jebol di dua lokasi pada Selasa (20/5) sekitar pukul 00.30 WIB.
“Saat ini, area pemukiman dan jalan desa sepanjang di Desa Ketitang Wetan tergenang air sekitar 10-30 sentimeter. Sedangkan lahan pertanian juga terdampak luapan air Sungai Gandam seluas 21 hektare,” kata Sujono.
Warga yang terdampak di Desa Ketitang Wetan tersebar di dua RW dan 10 RT dengan jumlah keluarga sebanyak 891 keluarga, menjadikan desa ini sebagai wilayah dengan dampak terbesar dari kejadian tanggul jebol tersebut.
Sungai Kedongklo di Kecamatan Jakenan
Camat Jakenan Yogo Wibowo juga membenarkan adanya tanggul Sungai Kedongklo yang jebol di Desa Sidoarum. Ia menjelaskan bahwa Sungai Kedongklo melintasi tujuh desa, yakni Desa Tondomulyo, Sidoarum, Karangrowo, Tlogorejo, Sonorejo, Sendangsoko, dan Tambahmulyo.
Dengan kondisi sungai yang melintasi banyak desa, potensi dampak dari jebolnya tanggul ini cukup luas dan memerlukan penanganan yang cepat untuk mencegah perluasan area terdampak.
Menanggapi kejadian banjir akibat tanggul jebol ini, Bupati Pati Sudewo menyatakan bahwa pendangkalan sungai sudah lama tidak mendapatkan penanganan. Untuk itu, beliau telah menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang untuk segera menangani permasalahan tersebut.
“Pendangkalan sungai sudah lama tidak ada penanganan. Untuk itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang diinstruksikan untuk segera menangani permasalahan tersebut,” tegas Bupati Sudewo.











