TANGERANG, Warga Berita – Kelompok 28 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Sultang Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar sosialisasi HIV/AIDS dan DBD di SMP Negeri 2 Kemiri, Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Selasa (30/1). Sosialisasi itu dihadiri siswa/siswi SMP Negeri 2 Kemiri.
Sebagai pemateri HIV/AIDS adalah Dyah Ayu Lestari yang merupakan penyuluh kesehatan masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Sedangkan pemateri DBD yaitu Nurul Karomah yang merupakan petugas kesehatan lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Sosialisasi itu mengangkat tema Ciptakan Generasi Berprestasi Tanpa HIV/AIDS dan DBD.
Sesi pertama, pemaparan materi oleh Dyah Ayu Lestari terkait penyakit HIV/AIDS. Pemaparan materi HIV/AIDS diawali dengan pengenalan secara umum terkait virus HIV dan penyakit AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang meneyerang sistem kekebalan manusia.
“Jika sudah terinfeksi virus HIV dan kondisinya menjadi semakin buruk, maka berpotensi terjangkit AIDS. Ketika terindikasi adanya virus HIV di dalam tubuh, seseorang harus mengonsumsi obat selama seumur hidup nya untuk menidurkan virus tersebut,” kata wanita yang akrab dipanggil Ayu.
Lanjut Ayu, proses penularan HIV bisa terjadi dari banyak sisi. Misalnya melalui cairan seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. “Hal-hal seperti berhubungan seksual, kontak darah (tranfusi darah, sharing needle), kehamilan, kelahiran, dan menyusui dapat menyebabkan seseorang tertular virus HIV,” terangnya.
Selain mengenali upaya pencegahan, masyarakat juga perlu mengetahui gejala-gejala dan keluhan penderita HIV/AIDS.
“Sudah umum, salah satu cara mencegah HIV itu adalah dengan tidak berhubungan seksual sebelum menikah. Terutama untuk anak-anak remaja. Selain itu, menghindari narkoba dan menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Kalau gejala-gejala umum, ya seperti sariawan yang tidak kunjung sembuh, sakit kepala yang tidak biasa, kelelahan yang amat lelah, radang tenggorokan, hilang nafsu makan dalam rentang waktu yang panjang, nyeri otot, timbul ruam di sekujur tubuh, dan pembengkakan kelenjar getah bening,” tutur Ayu.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengucilkan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). “Gak usah takut, penderita HIV/AIDS seharusnya dirangkul bukan dijauhi. Yang seharusnya dijauhi adalah penyakitnya, bukan penderitanya. Lakukan tiga langkah ini dalam pencegahan, pertama perkuat keimanan dan ketakwaan, kedua melakukan kegiatan-kegiatan positif baik di lingkungan keluarga dan rumah, ketiga harus memiliki hubungan yang akrab dan intim dengan keluarga,” tuntas Ayu.
Sementara itu, pada sesi sosialisasi DBD, Nurul Karomah menyampaikan, penyakit DBD tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan di Indonesia, tingkat kematian dengan kasus DBD cukup tinggi. “Data Kemenkes, pada tahun 2023 terdapat 68.996 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan kasus kematian 498 jiwa,” ucapnya.
Pencegahan dan gejala penderita DBD sangat mudah untuk dilakukan dan diketahui. “Apalagi sekarang memasuki musim penghujan, ini sangat rentas terjadinya peningkatan kasus DBD. Pencegahan bisa dilakukan mulai dari rumah masing-masing, seperti membuang botol-botol bekas yang bisa menyebabkan berkembangnya jentik-jentik nyamuk, membersihkan selokan, menimbun genangan-genangan air. Untuk gejalanya sendiri, ditandai dengan panas (demam tinggi) dan disertai dengan pendarahan,” terang Nurul.
Upaya pencegahan DBD yang lebih efisien, yaitu dengan mengimplementasikan 4M plus. “Pertama, menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, WC, drum, dan lainnya. Kedua, menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti gentong air, tempayan, dan tempat lain yang berpotensi untuk menampung air. Ketiga, mendaur ulang barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Keempat, memantau jentik,” urainya.
Masih di tempat yang sama, Ketua Kelompok KKM 28 Untirta, Rifat Habibi Arya Rachmanda mengatakan, penyelenggaraan sosialisasi HIV/AIDS dan DBD ini merupakan program kerja KKM mahasiswa Untirta yang bertujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan, dan langkah pencegahan terkait penyakit dari virus HIV/AIDS dan terkait Demam Berdarah Dengue (DBD) pada remaja.
“Sosialisasi HIV/AIDS dan DBD ini merupakan media bagi kita semua dalam menambah pengetahuan dan wawasan cakrawala. Sosialisasi yang diselenggarakan oleh Kelompok KKM 28 Untirta ini menjadi jembatan Warga Berita Puskemas Kecamatan Kemiri dengan siswa-siswi SMPN 2 Kemiri khususnya dalam memberikan informasi terkait penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja dan terkait kesehatan lingkungan, yakni Deman Berdarah Dengue (DBD),” tuntasnya.
Editor: Abdul Rozak
TANGERANG, Warga Berita – Kelompok 28 Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Universitas Sultang Ageng Tirtayasa (Untirta) menggelar sosialisasi HIV/AIDS dan DBD di SMP Negeri 2 Kemiri, Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Selasa (30/1). Sosialisasi itu dihadiri siswa/siswi SMP Negeri 2 Kemiri.
Sebagai pemateri HIV/AIDS adalah Dyah Ayu Lestari yang merupakan penyuluh kesehatan masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Sedangkan pemateri DBD yaitu Nurul Karomah yang merupakan petugas kesehatan lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Sosialisasi itu mengangkat tema Ciptakan Generasi Berprestasi Tanpa HIV/AIDS dan DBD.
Sesi pertama, pemaparan materi oleh Dyah Ayu Lestari terkait penyakit HIV/AIDS. Pemaparan materi HIV/AIDS diawali dengan pengenalan secara umum terkait virus HIV dan penyakit AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang meneyerang sistem kekebalan manusia.
“Jika sudah terinfeksi virus HIV dan kondisinya menjadi semakin buruk, maka berpotensi terjangkit AIDS. Ketika terindikasi adanya virus HIV di dalam tubuh, seseorang harus mengonsumsi obat selama seumur hidup nya untuk menidurkan virus tersebut,” kata wanita yang akrab dipanggil Ayu.
Lanjut Ayu, proses penularan HIV bisa terjadi dari banyak sisi. Misalnya melalui cairan seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu. “Hal-hal seperti berhubungan seksual, kontak darah (tranfusi darah, sharing needle), kehamilan, kelahiran, dan menyusui dapat menyebabkan seseorang tertular virus HIV,” terangnya.
Selain mengenali upaya pencegahan, masyarakat juga perlu mengetahui gejala-gejala dan keluhan penderita HIV/AIDS.
“Sudah umum, salah satu cara mencegah HIV itu adalah dengan tidak berhubungan seksual sebelum menikah. Terutama untuk anak-anak remaja. Selain itu, menghindari narkoba dan menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Kalau gejala-gejala umum, ya seperti sariawan yang tidak kunjung sembuh, sakit kepala yang tidak biasa, kelelahan yang amat lelah, radang tenggorokan, hilang nafsu makan dalam rentang waktu yang panjang, nyeri otot, timbul ruam di sekujur tubuh, dan pembengkakan kelenjar getah bening,” tutur Ayu.
Pada kesempatan tersebut, ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengucilkan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). “Gak usah takut, penderita HIV/AIDS seharusnya dirangkul bukan dijauhi. Yang seharusnya dijauhi adalah penyakitnya, bukan penderitanya. Lakukan tiga langkah ini dalam pencegahan, pertama perkuat keimanan dan ketakwaan, kedua melakukan kegiatan-kegiatan positif baik di lingkungan keluarga dan rumah, ketiga harus memiliki hubungan yang akrab dan intim dengan keluarga,” tuntas Ayu.
Sementara itu, pada sesi sosialisasi DBD, Nurul Karomah menyampaikan, penyakit DBD tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan di Indonesia, tingkat kematian dengan kasus DBD cukup tinggi. “Data Kemenkes, pada tahun 2023 terdapat 68.996 kasus demam berdarah dengue (DBD) dengan kasus kematian 498 jiwa,” ucapnya.
Pencegahan dan gejala penderita DBD sangat mudah untuk dilakukan dan diketahui. “Apalagi sekarang memasuki musim penghujan, ini sangat rentas terjadinya peningkatan kasus DBD. Pencegahan bisa dilakukan mulai dari rumah masing-masing, seperti membuang botol-botol bekas yang bisa menyebabkan berkembangnya jentik-jentik nyamuk, membersihkan selokan, menimbun genangan-genangan air. Untuk gejalanya sendiri, ditandai dengan panas (demam tinggi) dan disertai dengan pendarahan,” terang Nurul.
Upaya pencegahan DBD yang lebih efisien, yaitu dengan mengimplementasikan 4M plus. “Pertama, menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, WC, drum, dan lainnya. Kedua, menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti gentong air, tempayan, dan tempat lain yang berpotensi untuk menampung air. Ketiga, mendaur ulang barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Keempat, memantau jentik,” urainya.
Masih di tempat yang sama, Ketua Kelompok KKM 28 Untirta, Rifat Habibi Arya Rachmanda mengatakan, penyelenggaraan sosialisasi HIV/AIDS dan DBD ini merupakan program kerja KKM mahasiswa Untirta yang bertujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan, dan langkah pencegahan terkait penyakit dari virus HIV/AIDS dan terkait Demam Berdarah Dengue (DBD) pada remaja.
“Sosialisasi HIV/AIDS dan DBD ini merupakan media bagi kita semua dalam menambah pengetahuan dan wawasan cakrawala. Sosialisasi yang diselenggarakan oleh Kelompok KKM 28 Untirta ini menjadi jembatan Warga Berita Puskemas Kecamatan Kemiri dengan siswa-siswi SMPN 2 Kemiri khususnya dalam memberikan informasi terkait penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja dan terkait kesehatan lingkungan, yakni Deman Berdarah Dengue (DBD),” tuntasnya.
Editor: Abdul Rozak












