Oleh : Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc., Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)
Artinya: Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).
Produktivitas Kerja
Ramadan mengajak setiap pegawai untuk lebih produktif, menyuguhkan hasil kerja diatas rata-rata yang mungkin sebelumnya belum pernah dicapai. Ramadan mengajak setiap pegawai dapat memanfaatkan setiap detik yang ada menjadi lini-lini keberpahalaan, bukan sebaliknya menjadi sumber kemalasan.
Bulan Ramadan mengantarkan umat manusia ke gerbang pahala yang lebih besar dari biasanya. Setiap keutamaan yang terkandung di bulan Ramadan menjadikan bulan ini teramat istimewa. Allah SWT mewajibkan hambanya berpuasa tidak hanya semata-mata untuk menahan lapar dan haus selama 12 jam. Maka dari itu diharamkan untuk umat islam bermalas-malasan ketika berpuasa. Menjalankan ibadah puasa harus dilakukan secara ikhlas dengan niat untuk memperoleh ridha Allah SWT semata.
Manusia memiliki banyak cara untuk mengejar amalan di bulan Ramadan. Selain berpuasa, terdapat amalan-amalan lain yang dapat mendatangkan pahala bagi siapa saja yang menjalaninya. Jika seorang muslim berhasil melaksanakan ibadah puasa dengan landasan iman dan ihtisab maka ia akan menjadi orang yang berhak mendapatkan ampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang telah ia lakukan.
Ramadan adalah bulan kinerja, bulan produktivitas. Saat kita mampu mengoptimalkan kinerja secara diatas rata-rata (nonregular) melalui capaian-scapaian perubahan, pada saat itu pula sejatinya kita juga telah melipatgandakan pahala dari hasil kerja kita. Ramadan adalah bulan pahala, semakin produktif semakin banyak pahalanya. Maka, produktivitas kita selama Ramadan seolah menjadi tolok ukur akan kualitas diri kita dalam menjalani Ramadan, menjadi tolok ukur kualitas level ibadah puasa kita.
Pada ranah kerja, produktivitas kita dalam mengelola dan mencapai target pekerjaan dengan sendirinya menjadi tolok ukur seberapa tinggi tingkat spiritualitas kita. Semakin bagus ibadah puasa seseroang akan terlihat pada seberapa tuntas dan optimal dirinya dalam mengelola tugas secara kedinasan. Inilah lokus ibadah dan muamalah, Warga Berita puasa dan kerja yang menjadi satu kesatuan dan linier satu sama lainnya. Sehingga akan sangat jelas tampak bahwa jika seorang pegawai merasa optimal dalam menjalankan ibadah puasa maka selayaknya pula akan terlihat dampak-dampak optimal dari aspek kinerja yang dijalankannya.
Momentum Ibadah
Ramadan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan. Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki diri, termasuk dalam hal meningkatkan etos kerja dan produktivitas. Puasa bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, puasa harus menjadi motivasi untuk meningkatkan produktivitas dan etos kerja. Dalam berpuasa, kita diharuskan untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, yang tentunya membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan yang tinggi. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mengatur jadwal kerja dan kegiatan sehari-hari secara lebih baik.
Salah satu tujuan puasa yaitu agar kita bertakwa. Kata takwa mencakup segala kebaikan yang kita lakukan. Melakukan pekerjaan sehari-hari dengan baik, termasuk bagian untuk mencapai ketakwaaan. Bulan suci Ramadan haruslah dijadikan sebagai momentum untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam hal ibadah, silaturahim, integritas, jujur dan berkarakter kuat.
Semua ibadah dilipat gandakan pahalanya dan nilai ibadahnya tinggi untuk beraktivitas dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja yang baik. Karakter-karakter positif tersebut sangat dibutuhkan untuk membentuk soft skills pegawai disamping hard skillsnya. Sehingga selama berpuasa kurun waktu satu bulan, efektif untuk membentuk etos kerja seperti disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, jujur, mandiri, serta peduli kepada sesama yang melahirkan kerjasama.
Setiap pegawai sudah menetapkan dan menandatangani perjanjian kinerja melalui Sasaran Kinerja Pegawai. Target kinerja ini dapat menjadi jangkar panduan dalam merealisasikan kinerja-kinerja, menjadi rel yang akan memandu produktivitas diri. Jika dalam aspek keberpahalaan Ramadan kita memiliki target-target personal seperti salat malam, tilawah, sedekah, maupun ibadah teknis lainnya maka dalam ranah kerja kita juga selayaknya mampu menargetkan capaian-capaian yang bukan merupakan bagian dari target kinerja secara reguler. Ada perubahan-perubahan/inovasi yang dapat ditargetkan selama Ramadan sekecil apapun bentuk perubahan.
Khatimah
Ibadah puasa itu ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT. Maka sebagai ASN ada upaya pengawasan melekat. Bekerja apapun, tidak karena ada atasan, atau pimpinan harus dijalani. Tidak perlu diperintah kalau memang sudah ada tugas pokok dan fungsinya, lakukan. Yang menjadi ukuran adalah dorongan pribadi bahwa kita menjalankan amanah, melayani umat, jadi kerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajiban.
Puasa di bulan Ramadan juga mempunyai banyak spirit, Warga Berita lain meningkatnya etos kerja manusia dalam menjalani rutinitas pekerjaanya. Dari berbagai kajian disiplin ilmu, puasa bagi seseorang mengandung banyak manfaat, baik dari segi kesehatan, ekonomi, politik dan pendidikan. Spirit yang dilahirkan saat berpuasa dalam etos kerja.
Bulan Ramadan dapat menjadi ujian awal untuk menguji etos kerja seseorang dalam bekerja dan merupakan sebuah amalan yang dianjurkan dalam Islam. Sebagai manusia harus pandai bersyukur dengan segala karunia kesehatan, kesejahteraan, dan kekuatan yang diberikan Allah SWT salah satunya adalah untuk meningkat etos kerja. Meskipun kita berpuasa sambil bekerja, kita harus selalu menjaga etos kerja dan meningkatkan produktivitas kita agar dapat mencapai kesuksesan dalam dunia dan akhirat. Jika etos kerja meningkat selama Ramadhan, maka sudah bisa dipastikan secara alamiah bahwa produktivitas kerjanya juga terus meningkat pada bulan-bulan setelah Ramadan.
Dengan Mengharap ridha Allah SWT, puasa yang bertujuan untuk meraih ridha dan cinta Allah SWT adalah Mutlak diadakan (baca: tujuan puasa). Karena niat meraih cinta dan ridha Allah SWT merupakan prinsip terpenting yang harus melandasi segala ibadah yang dikerjakan.

Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan& Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.











