Oleh : Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (bersaksi atau jujur tentang kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah : 8).
Makna Ramadan
Puasa Ramadan adalah salah satu ibadah yang diwajibkan bagi umat Islam baik itu muslim maupun muslimah, anak-anak yang sudah baligh sampai orang dewasa, kecuali yang sedang udzur. Jika kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari pasti hal ini akan terlihat pada masing-masing umat Islam. Mengapa dikatakan bahwa puasa Ramadan dapat melatih kejujuran umat Islam, mari kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak manusia yang kurang jujur dalam berbuat, namun jika kita lihat dalam pelaksanaan ibadah puasa jarang-jarang orang yang memberanikan diri ketika sedang berpuasa mengendap-ngendap makan siang supaya tidak ketahuan orang lain. Karena apa disinilah kita diuji kejujuran oleh Allah SWT bahwa meskipun tidak ada orang lain yang melihat akan tetapi Allah SWT terus memantau perjalanan aktifitas kita setiap harinya.
Dari sini pula dapat kita yakini bahwa jika kita sudah konsekuen dengan kewajiban kita sehari-hari maka kita pun akan selalu jujur dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Melalui ibadah puasa Ramadan kita melatih kejujuran diri karena hal ini berhubungan dengan semua. yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari baik ketika di rumah maupun di tempat kerja masing-masing.
Puasa merupakan ibadah yang istimewa. Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.
Ramadan adalah bulan kawah candradimuka, yaitu bulan penempaan, pelatihan dan pembentukan spiritualitas. Selama satu bulan penuh, orang-orang yang berpuasa ditempa, dilatih dan dibentuk spiritualisnya agar menjadi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa sendiri dimaknai sebagai orang senantiasa mengerjakan semua perintah-perintah Allah dan meninggalkan segala hal yang di larang-Nya. Sebuah definisi yang sederhana tetapi memiliki makna substantif yang dalam. Definisi takwa ini mencakup secara keseluruhan dari puncak sipritualitas manusia.
Puncak sipiritualitas itu adalah jika manusia secara sadar dan ikhlas melaksanakan semua ketentuan Allah dari hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi semua hal yang menjadi larangan Allah SWT.
Makna Kejujuran
Kejujuran merupakan barang yang sangat langka saat ini. Sosok orang yang jujur makin sulit ditemukan. Kita hampir putus asa mencari, masih adakah seseorang atau suatu lembaga atau organisasi yang masih bisa dipercaya. Apalagi di era informasi yang makin canggih seperti saat ini makin tak jelas mana informasi yang salah dan mana yang benar.
Makin banyak praktek ketidak jujuran dan kebohongan kita temui. Iming-iming, pencitraan dan janji-janji palsu makin kental mewarnai suasana politik dimanapun di berbagai pelosok negara kita. Dimana-mana suasananya hampir sama.
Untuk memenuhi ambisinya seseorang seperti merasa tak bersalah melakukan kebohongan, juga tak peduli caranya yang ditempuh halal atau haram, tak peduli bahwa ia telah melakukan fitnah dan ghibah. Manusia berlomba-lomba mengejar materi dan kekuasaan, cara apapun dilakukan untuk mendapatkannya. Mereka seperti melupakan dosa dan hari pembalasan, ada Tuhan yang mencatat semua perbuatannya. Nabi muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram (HR Muslim).
Kejujuran merupakan barang yang sangat langka saat ini. Sosok orang yang jujur makin sulit ditemukan. Kita hampir putus asa mencari, masih adakah seseorang atau suatu lembaga atau organisasi yang masih bisa dipercaya. Apalagi di era informasi yang makin canggih seperti saat ini makin tak jelas mana informasi yang salah dan mana yang benar.
Di era politik yang sedang marak belakangan ini apalagi, makin banyak praktek ketidak jujuran dan kebohongan kita temui. Iming-iming, pencitraan dan janji-janji palsu makin kental mewarnai suasana politik dimanapun di berbagai pelosok negara kita. Dimana-mana suasananya hampir sama.
Untuk memenuhi ambisinya seseorang seperti merasa tak bersalah melakukan kebohongan, juga tak peduli caranya yang ditempuh halal atau haram, tak peduli bahwa ia telah melakukan fitnah dan ghibah. Manusia berlomba-lomba mengejar materi dan kekuasaan, cara apapun dilakukan untuk mendapatkannya. Mereka seperti melupakan dosa dan hari pembalasan, ada Tuhan yang mencatat semua perbuatannya. Nabi Muhammad SAW pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman, manusia dalam mencari harta, tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram.
Puasa merupakan ibadah yang istimewa. Berbeda dengan sifat ibadah yang lain, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.
Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun jika melakukan puasa dengan bersungguh-sungguh dan ikhlas karena Allah, kita tidak akan mau makan atau minum, karena sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat dicatat Allah swt.
Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.
Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi Allah SWT. Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.
Jika manusia jujur telah lahir setelah sebulan penuh melakukan ibadah puasa, lalu mereka menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak akan ada lagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya. Insya Allah hidupnya secara pribadi akan menjadi tenang dan juga membawa kebaikan bagi lingkungan. Mari kita jadikan ibadah puasa dan bulan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk melatih kejujuran. Hidup dengan cara yang jujur, amanah pastilah membawa ketenangan.
Salah satu sifat dan sikap yang ditempa dan dilatihkan oleh Allah dalam bulan Ramadan adalah sifat jujur. Jujur terhadap diri sendiri, orang lain, dan jujur kepada Sang Maha Benar atau Sang Maha Jujur. Sifat Jujur adalah puncak dan induk dari akhlak seseorang. Ketika seseorang memiliki sifat jujur maka akan mengalir dan lahirlah dari dirinya sikap kesederhanaan, ketawadh’uan dan kebaikan-kebaikan. Dus, dengan sendirinya kejujuran itu akan menghindarkan seseorang dari sikap munafik (kepura-puraan/hipokrit), sikap dusta atau pembohong, dan sikap takabur.
Banyak yang dengan pesimis mengatakan bahwa manusia yang jujur di zaman ini adalah jenis yang langka. Rasa pesimis itu misalnya muncul dalam ungkapan “ jujur hancur, tidak jujur mujur”. Ungkapan ini sebenarnya bentuk refleksi dari rasa putus asa betapa sifat-sifat kejujuran sekarang ini semakin mahal dan semakin sukar ditemui. Kehidupan yang serba pragmatis dan oportunis membawa banyak orang berusaha menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan pada akhirnya mengabaikan kejujuran. Jika ini terjadi begitu masif, maka lama kelamaan ketidakjujuran menjadi lumrah dan kejujuran justru dianggap suatu keanehan. Barangkali dari situasi itulah ungkapan “jujur hancur dan tidak jujur mujur” itu awal mula muncul dan menjadi olok-olok manusia zaman ini.
Salah satu hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah menumbuhkan sikap jujur, rajin menegakkan keadilan dan kebenaran. Ibadah puasa pada dasarnya memerlukan kejujuran dari setiap orang yang melaksanakannya, baik jujur terhadap dirinya atau terhadap orang lain. Tanpa kejujuran tidak mungkin ada ibadah puasa, karena ibadah itu dilakukan dengan keinsyafan dan tidak ada pengawasan dari manusia lain.

Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc. adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional).












