WargaBerita.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Tekno
  • Bola
  • Musik
WargaBerita.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Tekno
  • Bola
  • Musik
No Result
View All Result
WargaBerita.com
No Result
View All Result
Home Nasional

Pakar IT Unair Nilai Data Sirekap Ceroboh, Suara Paslon 02 Hanya 48%, Ini Kajian Ilmiahnya » Warga Berita

Redaksi Warga Berita by Redaksi Warga Berita
20 Maret 2024
Reading Time: 4 mins read
0
Pakar IT Unair Nilai Data Sirekap Ceroboh, Suara Paslon 02 Hanya 48%, Ini Kajian Ilmiahnya » Warga Berita

2003 sirekap
Ilustrasi penggunaan data Sirekap KPU RI | Tribunnews

JAKARTA, WargaBerita – Pakar IT Kecerdasan Buatan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Soegianto MSi menilai, data Sirekap milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) ceroboh, sehingga terjadi kesalahan data suara yang sangat signifikan.

Bahkan, kajian ilmiah yang dilakukannya, menunjukkan bahwa suara Paslon nomor urut 02, Prabowo-Gibran hanya sebesar 48 persen.

Dengan demikian, mestinya Pemilihan Presiden (Presiden) berlangsung dua putaran, karena tidak ada calon yang mencapai 50 persen.

Hal tersebut diungkapkan oleh Soegianto dalam diskusi publik bertajuk “Sirekap dan Kejahatan Pemilu 2024 Sebuah Konspirasi Politik”.

Soegianto yang merupakan dosen Fisika Komputasi di Fakultas Sains dan Teknologi Unair Surabaya mengaku, telah melakukan kajian ilmiah terkait data hasil penghitungan suara yang ditampilkan Sirekap milik KPU RI.

Ia juga telah melakukan snapshoot untuk menangkap Json yang merupakan jalur komunikasi Warga Berita web dan server Sirekap, serta menganalisa menggunakan robot.

Dalam kajiannya, Soegianto mengambil 797.000 data sebagai bahan analisa dan menangkap 96 variabel dengan tidak mengubah gambar menjadi teks dan sebagainya.

Ia hanya mengambil data angka dari komunikasi Warga Berita server dengan web.

Dari analisa awal terhadap data tersebut, Soegianto menemukan bahwa data Warga Berita suara sah dan pemilih yang mencoblos tidak kompak atau tidak cocok.

Seharusnya Sirekap dapat mempermudah rekapitulasi jumlah suara sah dan jika ada data yang berbeda atau salah maka akan muncul notifikasi.

Kenyataannya yang terjadi ketika angka yang salah juga masuk atau terdata di Sirekap.

“Ini berarti data suara sah tidak bisa dipastikan karena ada yang tidak match. Jadi, saya ingin mendeklarasikan bahwa ini kecerobohan, ya ini kecerobohan dari Sirekap,” kata Soegianto dalam diskusi di Jakarta, Senin (18/3/2024).

 

Soegianto kemudian menganalisa untuk membandingkan data Pileg dan data Pilpres.

Pertimbangannya, secara kaidah ilmiah seharusnya ada korelasi Warga Berita jumlah suara Pileg dan Pilpres, karena pencoblosan dilakukan orang atau pemilih yang sama dan di lokasi yang sama.

Ternyata, hasil analisa menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok, yakni hasil suara untuk pileg dan pilpres berbeda Warga Berita 50 persen bahkan 70% di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Hal itu menimbulkan pertanyaan besar karena perbedaan yang signifikan.

Sehingga, Soegianto berkesimpulan data dari Sirekap tidak bisa dinyatakan valid untuk direkapitulasi dan menghasilkan persentase suara untuk partai politik maupun pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden.

“Saya tidak menghitung suara sah dan suara tidak sah, sebab bagi saya, itu sudah lewat, karena memang ada ratusan ribu TPS yang datanya tidak nyambung. Padahal seharusnya semua datanya valid, ternyata tidak valid, jadi ya wis enggak usah dianalisa karena tidak valid,” ujar Soegianto.

 

Soegianto lantas melanjutkan kajian atas data Sirekap, dengan membuat metode untuk mendefenisikan data yang dianggap valid.

 

Ada tiga metode yang digunakan.

Pertama, menghitung semua data Sirekap dengan dianggap valid, kecuali yang jumlah pemilihnya di atas DPT yang sebanyak 300 orang.

“Berdasarkan metode pertama, jumlah yang memilih Pilpres itu 124 juta dari 795.000 TPS,” kata Soegianto.

Kedua, menganalisa semua data Sirekap berdasarkan suara nil dan yang di atas 300 pemilih dan ternyata banyak TPS yang hasilnya nil.

Ketiga, menganalisa data suara berdasarkan gambar formulir C1 yang diupload.

“Setelah menggabungkan metode kedua dan ketiga, saya menemukan bahwa suara tidak sah itu ada 49 juta di seluruh Indonesia,” ungkap Soegianto.

Bahkan, setelah dikolaborasi Warga Berita yang mencoblos partai dan paslon atau untuk pileg dan pilpres, semua data bergeser di mana terjadi penambahan suara untuk paslon 2 sebesar 20%, sedangkan untuk paslon 1 berkurang dan paslon 3, sebesar 15%.

“Akhirnya saya mencoba untuk menghitung kalau begitu kelompok orang yang memilih di pilpres dan orang yang memilih di pileg dikelompokkan, maka muncul angka untuk paslon 2 itu 48%,” tutur Soegianto.

Dia menuturkan, data Sirekap yang menunjukkan paslon 2 mendapat 58% suara kemungkinan disebabkan penambahan dari suara tidak sah atau nil.

Dengan demikian, tak ada paslon yang memenangkan Pilpres dengan suara mayoritas, sehingga Pilpres bisa berlanjut ke putaran kedua.

www.tribunnews.com

 

 

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com


https://www.youtube.com/watch?v=videoseries

RELATED POSTS

Ajudan Bupati Selingkuh dengan Janda Anak Dua, Videonya Viral di Media Sosial

Viral, Link Terabox Video Ibu Persit Hilda Pricillya dan Selingkuhan Pratu Risal

Bahlil Siapkan Regulasi Pertambangan untuk UMKM dan Koperasi Lokal

2003 sirekap
Ilustrasi penggunaan data Sirekap KPU RI | Tribunnews

JAKARTA, WargaBerita – Pakar IT Kecerdasan Buatan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Soegianto MSi menilai, data Sirekap milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) ceroboh, sehingga terjadi kesalahan data suara yang sangat signifikan.

Bahkan, kajian ilmiah yang dilakukannya, menunjukkan bahwa suara Paslon nomor urut 02, Prabowo-Gibran hanya sebesar 48 persen.

Dengan demikian, mestinya Pemilihan Presiden (Presiden) berlangsung dua putaran, karena tidak ada calon yang mencapai 50 persen.

Hal tersebut diungkapkan oleh Soegianto dalam diskusi publik bertajuk “Sirekap dan Kejahatan Pemilu 2024 Sebuah Konspirasi Politik”.

Soegianto yang merupakan dosen Fisika Komputasi di Fakultas Sains dan Teknologi Unair Surabaya mengaku, telah melakukan kajian ilmiah terkait data hasil penghitungan suara yang ditampilkan Sirekap milik KPU RI.

Ia juga telah melakukan snapshoot untuk menangkap Json yang merupakan jalur komunikasi Warga Berita web dan server Sirekap, serta menganalisa menggunakan robot.

Dalam kajiannya, Soegianto mengambil 797.000 data sebagai bahan analisa dan menangkap 96 variabel dengan tidak mengubah gambar menjadi teks dan sebagainya.

Ia hanya mengambil data angka dari komunikasi Warga Berita server dengan web.

Dari analisa awal terhadap data tersebut, Soegianto menemukan bahwa data Warga Berita suara sah dan pemilih yang mencoblos tidak kompak atau tidak cocok.

Seharusnya Sirekap dapat mempermudah rekapitulasi jumlah suara sah dan jika ada data yang berbeda atau salah maka akan muncul notifikasi.

Kenyataannya yang terjadi ketika angka yang salah juga masuk atau terdata di Sirekap.

“Ini berarti data suara sah tidak bisa dipastikan karena ada yang tidak match. Jadi, saya ingin mendeklarasikan bahwa ini kecerobohan, ya ini kecerobohan dari Sirekap,” kata Soegianto dalam diskusi di Jakarta, Senin (18/3/2024).

 

Soegianto kemudian menganalisa untuk membandingkan data Pileg dan data Pilpres.

Pertimbangannya, secara kaidah ilmiah seharusnya ada korelasi Warga Berita jumlah suara Pileg dan Pilpres, karena pencoblosan dilakukan orang atau pemilih yang sama dan di lokasi yang sama.

Ternyata, hasil analisa menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok, yakni hasil suara untuk pileg dan pilpres berbeda Warga Berita 50 persen bahkan 70% di sejumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Hal itu menimbulkan pertanyaan besar karena perbedaan yang signifikan.

Sehingga, Soegianto berkesimpulan data dari Sirekap tidak bisa dinyatakan valid untuk direkapitulasi dan menghasilkan persentase suara untuk partai politik maupun pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden.

“Saya tidak menghitung suara sah dan suara tidak sah, sebab bagi saya, itu sudah lewat, karena memang ada ratusan ribu TPS yang datanya tidak nyambung. Padahal seharusnya semua datanya valid, ternyata tidak valid, jadi ya wis enggak usah dianalisa karena tidak valid,” ujar Soegianto.

 

Soegianto lantas melanjutkan kajian atas data Sirekap, dengan membuat metode untuk mendefenisikan data yang dianggap valid.

 

Ada tiga metode yang digunakan.

Pertama, menghitung semua data Sirekap dengan dianggap valid, kecuali yang jumlah pemilihnya di atas DPT yang sebanyak 300 orang.

“Berdasarkan metode pertama, jumlah yang memilih Pilpres itu 124 juta dari 795.000 TPS,” kata Soegianto.

Kedua, menganalisa semua data Sirekap berdasarkan suara nil dan yang di atas 300 pemilih dan ternyata banyak TPS yang hasilnya nil.

Ketiga, menganalisa data suara berdasarkan gambar formulir C1 yang diupload.

“Setelah menggabungkan metode kedua dan ketiga, saya menemukan bahwa suara tidak sah itu ada 49 juta di seluruh Indonesia,” ungkap Soegianto.

Bahkan, setelah dikolaborasi Warga Berita yang mencoblos partai dan paslon atau untuk pileg dan pilpres, semua data bergeser di mana terjadi penambahan suara untuk paslon 2 sebesar 20%, sedangkan untuk paslon 1 berkurang dan paslon 3, sebesar 15%.

“Akhirnya saya mencoba untuk menghitung kalau begitu kelompok orang yang memilih di pilpres dan orang yang memilih di pileg dikelompokkan, maka muncul angka untuk paslon 2 itu 48%,” tutur Soegianto.

Dia menuturkan, data Sirekap yang menunjukkan paslon 2 mendapat 58% suara kemungkinan disebabkan penambahan dari suara tidak sah atau nil.

Dengan demikian, tak ada paslon yang memenangkan Pilpres dengan suara mayoritas, sehingga Pilpres bisa berlanjut ke putaran kedua.

www.tribunnews.com

 

 

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com


https://www.youtube.com/watch?v=videoseries

ShareTweetSend
Redaksi Warga Berita

Redaksi Warga Berita

Related Posts

Ajudan Bupati Selingkuh dengan Janda Anak Dua, Videonya Viral di Media Sosial
Nasional

Ajudan Bupati Selingkuh dengan Janda Anak Dua, Videonya Viral di Media Sosial

14 Oktober 2025
Viral, Link Terabox Video Ibu Persit Hilda Pricillya dan Selingkuhan Pratu Risal
Nasional

Viral, Link Terabox Video Ibu Persit Hilda Pricillya dan Selingkuhan Pratu Risal

9 Oktober 2025
Menteri Bahlil Tegaskan Tidak Ada Pemangkasan Subsidi LPG 3 kg
Nasional

Bahlil Siapkan Regulasi Pertambangan untuk UMKM dan Koperasi Lokal

9 Oktober 2025
Mohammad Saleh
Nasional

Ditanya soal perpres sampah menjadi listrik, Wakil Ketua DPRD Jateng menjawab itukan mirip tesis S2 saya di Undip

9 Oktober 2025
Wihaji
Nasional

Wihaji Siapkan 15 Ribu Orang Tua Asuh Prioritas Penanganan Kesehatan Balita

25 Agustus 2025
bahlil
Nasional

Bahlil Dorong Optimalisasi Tambang untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

25 Agustus 2025
Next Post
Perusahaan di Kota Cilegon Diimbau Bayarkan THR Tepat Waktu – Warga Berita

Perusahaan di Kota Cilegon Diimbau Bayarkan THR Tepat Waktu – Warga Berita

11 Perda Kabupaten Serang Mandeg di Pemprov Banten, Salah Satunya Perda Percepatan Pembangunan Puspemkab – Warga Berita

11 Perda Kabupaten Serang Mandeg di Pemprov Banten, Salah Satunya Perda Percepatan Pembangunan Puspemkab – Warga Berita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended Stories

  • All
  • Daerah

Sukirman Ajak Pimpinan Jadi Suri Tauladan – DPRD JATENG

15 Maret 2024
Meutya Hafid Apresiasi Pilihan Prabowo Operasi Besar di RSPPN: Bukti Nakes RI Berkualitas

Meutya Hafid Apresiasi Pilihan Prabowo Operasi Besar di RSPPN: Bukti Nakes RI Berkualitas

1 Juli 2024
Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani Mendampingi Cawapres Gibran Rakabuming Raka Saat Blusukan Di Pasar Natar Lampung Sabtu.webp.webp

Gibran Siapkan Program Khusus untuk Pengusaha Muda

12 November 2023

Popular Stories

  • Link Video Viral Chela Pramuka di Situs Terabox dan Doods

    Link Video Viral Chela Pramuka di Situs Terabox dan Doods

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paah Cantek Viral Terabox: Konten Pribadi Tiktoker Malaysia Tersebar di Telegram

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Link Video Cikgu CCTV Wiring, Terabox & Doodstream

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buka Link Terabox Viral, Aman atau Tidak?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Lebih Suka Link Video Viral di Situs Doodstream, Malaysia Lebih Pilih Video Viral Melayu di Terabox

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berita Video
  • DISCLAIMER
  • Homepage
  • Jangan Buru Buru, Cari Tau Aja Dulu
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang WargaBerita.com
MEDIA WARGA BERITA
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Tekno
  • Bola
  • Musik

Berita Warga Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In