Pemerintah Kota Semarang menggelar Jambore Petani Cilik dan Remaja di Agro Purwosari, Mijen, pada 10-11 Agustus 2024, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan pertanian modern kepada generasi muda. Kegiatan ini menarik ratusan siswa SD-SMP yang antusias mengikuti berbagai aktivitas edukatif, termasuk pembelajaran tentang teknologi pertanian dan pengolahan makanan dari hasil urban farming. Jambore ini menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran dan ketertarikan anak-anak terhadap profesi petani yang kini telah bertransformasi dengan sentuhan teknologi modern.
Menghubungkan Generasi Muda dengan Pertanian Modern
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menekankan pentingnya mengenalkan profesi petani kepada generasi muda dengan cara yang relevan dan menarik. Menurutnya, pandangan tradisional tentang profesi petani perlu diperbarui untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. “Jangan dibayangkan seperti petani zaman dulu atau kolonial. Namun, adik-adik ini adalah generasi yang sudah memakai teknologi atau modernisasi pertanian,” ujarnya. Pendidikan pertanian yang berkelanjutan, lanjut Ita, harus melibatkan berbagai pihak seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) agar upaya ini dapat terus berkembang.
Antusiasme Siswa dalam Menyongsong Pertanian Masa Depan
Ratusan siswa dari berbagai sekolah di Kota Semarang berpartisipasi aktif dalam Jambore Petani Cilik. Mereka tidak hanya belajar tentang pertanian masa depan berbasis teknologi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengolahan hasil pertanian. Kegiatan ini membuka wawasan mereka tentang betapa pentingnya pertanian dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memberikan pemahaman tentang peluang besar yang ada di bidang ini.
Kreativitas Anak dalam Mengolah Hasil Urban Farming
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah “fun cooking” dan gelar hasil urban farming. Para siswa memanfaatkan hasil urban farming dari sekolah mereka untuk menciptakan berbagai kreasi makanan. Misalnya, dari bahan sederhana seperti lele dan daun mangga, mereka berhasil mengolahnya menjadi nugget lele dan cincau daun mangga. Menurut Plt. Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur, kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan upaya untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak, sambil mengajarkan mereka tentang potensi besar yang ada di sekitar mereka. “Bahan sederhana itu bisa diolah jadi makanan macam-macam. Ini menarik, meski sederhana, dan terpenting bahan yang didapatkan dari hasil urban farming,” jelasnya.
Menciptakan Rantai Distribusi Pangan
Jambore ini juga menjadi sarana untuk menginspirasi masyarakat dalam mengelola potensi yang ada di lingkungan mereka. Hernowo menambahkan bahwa kegiatan ini dapat mendorong terciptanya rantai distribusi pangan yang sehat dan berkelanjutan. “Yang paling utama, mereka mendapatkan makanan sehat, karena tanaman dan hewannya berasal dari bahan-bahan sehat,” katanya. Dengan memperkenalkan pertanian modern sejak dini, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya pertanian dan mampu berkontribusi pada ketahanan pangan di masa depan.
Pentingnya Pendidikan Pertanian Berkelanjutan
Jambore Petani Cilik ini tidak hanya menjadi ajang pembelajaran sementara, tetapi juga bagian dari pendidikan pertanian yang berkelanjutan. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menekankan bahwa edukasi tentang pertanian harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan lembaga riset, pendidikan pertanian modern dapat terus berkembang dan menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan di masa depan.
Peran Petani Milenial dalam Menginspirasi Generasi Muda
Petani milenial seperti Sandi Febrianto juga berperan dalam menginspirasi generasi muda. Ia mengajak para peserta jambore untuk berkemah di Sandi Buana Farm miliknya, di mana mereka dapat belajar lebih dalam tentang teknik pertanian modern seperti hidroponik. Dengan keterlibatan langsung di lapangan, anak-anak dapat melihat dan merasakan sendiri bagaimana teknologi modern dapat diterapkan dalam pertanian, sekaligus membuka mata mereka terhadap berbagai peluang yang ada di bidang ini.
Masa Depan Pertanian di Tangan Generasi Muda
Jambore Petani Cilik di Semarang ini adalah langkah awal yang penting dalam menyiapkan generasi muda untuk mengambil peran dalam sektor pertanian di masa depan. Dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi, mereka dapat membawa perubahan signifikan dalam cara kita memproduksi dan mengolah makanan. Pendidikan yang mereka terima di Jambore ini akan menjadi bekal penting bagi mereka untuk menghadapi tantangan di masa depan dan memastikan keberlanjutan sektor pertanian.












