Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, tengah berupaya melalukan perintisan kebun tanaman kopi organik bekerja sama dengan beberapa pihak.
Hal ini dilakukan dalam rangka memenuhi permintaan pasar ekspor kopi organik yang terus meningkat, khususnya dari negara-negara seperti Australia, Korea, dan Jepang.
Baca Juga: Harga Kopi Robusta Temanggung Melambung Tinggi
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Joko Budi Nuryanto, menyampaikan bahwa kopi organik dari Temanggung saat ini sangat diminati di pasar internasional.
“Kami melihat peningkatan minat dari buyer internasional. Awalnya hanya Australia yang menjadi pasar utama, tetapi kini Korea dan Jepang juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap kopi organik dari Temanggung,” ungkap Joko.
Menyikapi meningkatnya permintaan jenis kopi ini dipasar internasional, maka pada tahun 2024, dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Temanggung menargetkan perluasan area perkebunan kopi organik hingga mencapai 200 hektare.
Saat ini, perkebunan kopi dengan metode organik di Temanggung dihasilkan oleh petani bersertifikat yang tersebar 2 wilayah yaitu Kaloran dan Prangkokan, yang keduanya berada di Kecamatan Bejen. Adapun total luas lahan kebun kopi organik di Temanggung masih sekitar puluhan hektare.
Meski belum mengetahui secara pasti harga kopi jenis ini dipasar internasional, Joko menyatakan bahwa kopi organik dijual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan kopi nonorganik. Padahal Harga kopi non organik temanggung saat ini berkisar antara Rp58.000 hingga Rp60.000 per kilogram dipasar lokal.
Produksi kopi organik ini berkisar antara enam hingga tujuh kuintal setiap musim, dan terus mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya permintaan dari luar negeri.











