SERANG, Warga Berita – Sebanyak 1.333 calon legislatif (caleg) berkompetisi memperebutkan 100 kursi DPRD Banten.
Di Warga Berita ribuan caleg itu, ada caleg-caleg muda yang harus berhadapan dengan caleg petahana dan senior.
Peneliti Banten Institute for Governance Studies (BIGS) sekaligus Pengamat Kebijakan Publik dan Politik Dr. Harits Hijrah Wicaksana, mengatakan, jalan caleg muda menuju kursi legislatif tidak mudah. Mereka harus menghadapi realitas politik, khususnya para pemilih transaksional.
“Yang jadi kekhawatirkan caleg muda selain pengalaman dari petahana dan sebagainya, mental caleg muda ini runtuh ketika ditanya sama warga berani ngasih berapa agar dipilih,” ujar Harits kepada Radar Banten, Kamis 18 Januari 2024.
Harits mengatakan, caleg muda sendiri memiliki keterbatasan dari kapital sosial dan ekonomi. Yang mana, modal politik mereka tidaklah bisa dibandingkan dengan para petahana.
Dari sisi sosial, para caleg muda ini memiliki tingkat popularitas yang sangat rendah, berbeda dengan caleg petahana yang sudah menjabat selama lima tahun sebagai anggota legislatif.
“Saya perhatikan para caleg-caleg muda ini tidak begitu di kenal oleh kalangan masyarakat atau popularitasnya sangat sangat rendah, akhirnya ketika dia ingin dipilih tanpa dikenal terlebih dahulu oleh masyarakat ini akan menyulitkan. Belum lagi stigma dari masyarakat bahwa dengan umur yang masih muda, caleg itu belum pantas sebagai wakil rakyat,” katanya.
Sementara, caleg petahana memiliki beberapa kekuatan di antaranya pengalaman. Pengalaman itu sangat berharga, karena caleg petahana bisa mengukur suara yang mereka dapatkan.
Belum lagi jika petahana itu selama menjabat sebagai anggota legislatif terus merawat jaringan dengan membantu masyarakat di dapilnya. Hal itu akan membuat warga sulit beralih hati.
“Jika petahana itu betul serius untuk memelihara konstituennya melalui reses dan penyerapan aspirasi, kemudian membantu dapilnya, misalkan membantu warga yang kesulitan akses BPJS ataupun pelayanan kesehatan. Maka itu akan menjadi poin dirinya di masyarakat,” ucap dosen Universitas Trisakti ini.
Namun, jika caleg petahana itu bersikap acuh dan tidak merawat jaringannya, maka potensi terpilihnya kembali di periode ke depan akan sulit. Terlebih jika saingannya sudah mengetahui berapa kekuatan sosial dan ekonomi dari caleg petahana itu.
“Jika selama menjabat caleg itu hanya berkampanye, tapi tidak ada yang teralisasi. Maka masyarakat pun akan berpikir kembali untuk memilihnya kembali,” ungkapnya.
Caleg muda pun bisa memanfaatkan kelemahan dari caleg petahana yang tidak merawat jaringannya itu. Alhasil, potensi caleg petahana dapat goyah.
“Saya melihat hari ini baik itu caleg muda maupun petahana memiliki peluang yang sama, jika caleg petahana bisa merawat jaringan selama menjabat itu akan jadi kekuatan, tapi jika tidak akan sebaliknya. Caleg muda pun bisa memiliki peluang dengan mengkalikan bekali-kali lipat kekuatan ekonomi dan sosial dari caleg pertahana itu,” pungkasnya.
Editor : Merwanda
SERANG, Warga Berita – Sebanyak 1.333 calon legislatif (caleg) berkompetisi memperebutkan 100 kursi DPRD Banten.
Di Warga Berita ribuan caleg itu, ada caleg-caleg muda yang harus berhadapan dengan caleg petahana dan senior.
Peneliti Banten Institute for Governance Studies (BIGS) sekaligus Pengamat Kebijakan Publik dan Politik Dr. Harits Hijrah Wicaksana, mengatakan, jalan caleg muda menuju kursi legislatif tidak mudah. Mereka harus menghadapi realitas politik, khususnya para pemilih transaksional.
“Yang jadi kekhawatirkan caleg muda selain pengalaman dari petahana dan sebagainya, mental caleg muda ini runtuh ketika ditanya sama warga berani ngasih berapa agar dipilih,” ujar Harits kepada Radar Banten, Kamis 18 Januari 2024.
Harits mengatakan, caleg muda sendiri memiliki keterbatasan dari kapital sosial dan ekonomi. Yang mana, modal politik mereka tidaklah bisa dibandingkan dengan para petahana.
Dari sisi sosial, para caleg muda ini memiliki tingkat popularitas yang sangat rendah, berbeda dengan caleg petahana yang sudah menjabat selama lima tahun sebagai anggota legislatif.
“Saya perhatikan para caleg-caleg muda ini tidak begitu di kenal oleh kalangan masyarakat atau popularitasnya sangat sangat rendah, akhirnya ketika dia ingin dipilih tanpa dikenal terlebih dahulu oleh masyarakat ini akan menyulitkan. Belum lagi stigma dari masyarakat bahwa dengan umur yang masih muda, caleg itu belum pantas sebagai wakil rakyat,” katanya.
Sementara, caleg petahana memiliki beberapa kekuatan di antaranya pengalaman. Pengalaman itu sangat berharga, karena caleg petahana bisa mengukur suara yang mereka dapatkan.
Belum lagi jika petahana itu selama menjabat sebagai anggota legislatif terus merawat jaringan dengan membantu masyarakat di dapilnya. Hal itu akan membuat warga sulit beralih hati.
“Jika petahana itu betul serius untuk memelihara konstituennya melalui reses dan penyerapan aspirasi, kemudian membantu dapilnya, misalkan membantu warga yang kesulitan akses BPJS ataupun pelayanan kesehatan. Maka itu akan menjadi poin dirinya di masyarakat,” ucap dosen Universitas Trisakti ini.
Namun, jika caleg petahana itu bersikap acuh dan tidak merawat jaringannya, maka potensi terpilihnya kembali di periode ke depan akan sulit. Terlebih jika saingannya sudah mengetahui berapa kekuatan sosial dan ekonomi dari caleg petahana itu.
“Jika selama menjabat caleg itu hanya berkampanye, tapi tidak ada yang teralisasi. Maka masyarakat pun akan berpikir kembali untuk memilihnya kembali,” ungkapnya.
Caleg muda pun bisa memanfaatkan kelemahan dari caleg petahana yang tidak merawat jaringannya itu. Alhasil, potensi caleg petahana dapat goyah.
“Saya melihat hari ini baik itu caleg muda maupun petahana memiliki peluang yang sama, jika caleg petahana bisa merawat jaringan selama menjabat itu akan jadi kekuatan, tapi jika tidak akan sebaliknya. Caleg muda pun bisa memiliki peluang dengan mengkalikan bekali-kali lipat kekuatan ekonomi dan sosial dari caleg pertahana itu,” pungkasnya.
Editor : Merwanda












