Berliana Putri salah satu anggota penyelenggara menjelaskan inisiatif tersebut mengusung nama ‘Rona Kebaya’. Kebaya dipilih karena menjadi baju adat Indonesia yang mengalami perkembangan signifikan. Menjadi salah satu baju adat yang jenis dan bentuknya terus mengikuti perkembangan zaman.
“Kebaya juga identik untuk merepresentasikan keanggunan sosok wanita Indonesia. Karena dalam kampanye ini kami menargetkan ke masyarakat perempuan yang berada di wilayah Udinus dan Kota Lama Semarang,” terangnya.
Berbagai kegiatan Rona Kebaya mencakup kegiatan tanya jawab kepada masyarakat umum. Tujuannya untuk mengetahui pendapat mereka terkait penggunaan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Pada sesi itu, beberapa menyatakan bahwa kebaya tidak hanya dipakai pada acara khusus saja.
“Masyarakat juga kami ajak untuk menyampaikan harapan mereka terkait penggunaan kebaya. Secara umum mereka berharap kebaya bisa lebih bebas dipakai dimanapun, saat ini motif kebaya juga lebih nyaman digunakan, serta baju adat ini bisa lebih dikenal generasi muda” lanjutnya.
“Melalui kampanye ini kami berharap generasi muda bisa lebih memperhatikan dan peduli terhadap warisan budaya lokal. Karena jika bukan mereka, siapa lagi yang akan melanjutkan ke generasi berikutnya,” harap Berliana bersama seluruh anggota kampanye.

“Tugas akhir ini sebagai wadah mereka untuk praktik terjun langsung ke masyarakat. Harapannya kampanye yang diberikan juga memberi dampak positif di masyarakat,” tutupnya. (Humas Udinus/Haris. Foto: Dok. Mahasiswa Ilkom)












