Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) telah mengembangkan terobosan inovatif yang membuka peluang baru bagi mahasiswa disabilitas netra dalam mempelajari fonetik bahasa Inggris. International Phonetic Alphabet (IPA) Chart Assistive Learning Media (I-CAN) merupakan hasil kolaborasi lintas program studi yang dirancang untuk mengatasi hambatan aksesibilitas dalam pendidikan tinggi.
Rohmat Abdul Bashar, mahasiswa Program Sarjana Bahasa Inggris, adalah salah satu penerima manfaat utama dari inovasi ini. Selama ini, dia mengalami kesulitan signifikan dalam mengikuti mata kuliah Phonetics and Phonology. Tantangan utamanya terletak pada keterbatasan akses terhadap tabel dan diagram IPA yang kompleks, bahkan dengan bantuan screen reader.
Fitur Inovasi Aksesibilitas
Tim peneliti membangun solusi komprehensif melalui beberapa komponen utama:
- Kartu Braille Berbasis NFC Teknologi ini memungkinkan Rohmat mengenali simbol-simbol IPA dalam bahasa Inggris secara lebih mudah dan interaktif.
- Platform Digital Terintegrasi Website i-can.dinus.ac.id menyediakan:
- Bahan ajar video
- Buku ber-ISBN
- Rencana Pembelajaran Semester (RPS)
“Dengan inovasi ini, saya bisa mendengar bunyi-bunyian dan contoh kata khusus,” ungkap Rohmat. Dia berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan oleh lebih banyak orang.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Penelitian ini merupakan hasil kerja sama antara Program Studi Sarjana Bahasa Inggris dan Teknik Informatika Udinus. Tim peneliti dipimpin oleh Dr. Raden Arief Nugroho, dengan anggota Anisa Larassati, Nina Setyaningsih, dan Prof. Dr. Muljono.
Dimensi Internasional
Proyek ini tidak hanya berhenti pada lingkup lokal. Udinus telah menjalin kerja sama dengan Humboldt University of Berlin untuk mengembangkan inovasi ini dalam skala internasional. Kerja sama ditandai dengan perjanjian antara Dr. Sunardi dari Udinus dan Dr. Jozina Vaner Klok dari universitas mitra.
Signifikansi dan Dampak
I-CAN menciptakan terobosan dalam aksesibilitas pendidikan tinggi bagi mahasiswa disabilitas netra. Inovasi ini mendemonstrasikan potensi teknologi dalam mengatasi hambatan pendidikan dan menciptakan kesempatan yang lebih inklusif.
Fitur unik seperti kartu Braille berbasis NFC dan platform digital terintegrasi menunjukkan pendekatan komprehensif dalam merancang solusi pendidikan yang adaptif. Mahasiswa seperti Rohmat kini dapat mengakses materi akademik yang sebelumnya sulit dijangkau.
Ke Depan
Tim peneliti optimistis bahwa I-CAN dapat dikembangkan lebih lanjut. Kerja sama internasional dengan Humboldt University of Berlin menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan dan dampak inovasi ini.
Kisah Rohmat dan I-CAN menginspirasi kita untuk terus mendorong inovasi pendidikan yang inklusif, di mana teknologi menjadi jembatan menuju kesempatan yang sama untuk semua.












