WargaBerita.com
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Tekno
  • Bola
  • Musik
WargaBerita.com
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Tekno
  • Bola
  • Musik
No Result
View All Result
WargaBerita.com
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Syawalan dan Bakda Kupat: Perayaan Kemenangan Kita

Redaksi Warga Berita by Redaksi Warga Berita
23 April 2024
Reading Time: 3 mins read
0
Syawalan dan Bakda Kupat: Perayaan Kemenangan Kita

sukarjo 1

Pasca keramaian perayaan Idul Fitri yang bisa kita saksikan di berbagai wilayah di Indonesia, akhirnya tibalah awal bulan Syawal yang seringkali dimaknai sebagai bulan penuh kemenangan. Ada beragam jenis perayaan dan tradisi di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memperingati awal bulan kalender Hijriah yang biasa juga disebut sebagai tradisi Syawalan tersebut. Beragam jenis perayaan dan tradisi Syawalan biasanya diselenggarakan dengan menonjolkan kekhasan dan keunikan masing-masing daerah di daerah perayaan tersebut dilaksanakan.

Manusia disebut sebagai makhluk homo festivus atau makhuk yang senang mengkreasi berbagai festival atau perayaan. Satu di antaranya adalah festival yang bernuansa kegamaan, seperti perayaan tradisi Syawalan yang dilaksanakan beberapa hari setelah hari Lebaran, di beberapa tempat di Jawa biasanya dilaksanakan pada hari ke delapan atau di undur hingga akhir pekan pada bulan Syawal. Pada hari tersebut, masyarakat secara bersama-sama akan merasa perlu merayakan tradisi Syawalan.

Bakda Kupat

Satu pekan setelah merayakan hari Lebaran (Idul Fitri), masyarakat di beberapa daerah akan mengadakan perayaan kembali, yaitu tradisi Syawalan yang biasa disebut bakda kupat (lebaran ketupat). Di sebut Syawalan karena pelaksanaannya pada bulan syawal dan diadakan setelah hari Lebaran Sebagian masyarakat juga menyebutnya dengan bakda kupat karena sudah lazim kebanyakan orang saat itu banyak membuat kupat (ketupat). Dalam perayaan tersebut secara sederhana di berbagai daerah adalah diadakannya doa bersama, selanjutnya para warga mengadakan tukar-menukar ketupat yang dibawanya. Di beberapa daerah, para warga mengadakan acara berebut ketupat untuk memeriahkan perayaan. Di beberapa daerah, makanan lain yang juga ada selain ketupat adalah lepet, apem, dan buah-buahan.

Tradisi bakda kupat konon merupakan salah satu perayaan setelah hari Lebaran yang sudah ada sejak lama, yaitu pada era Kesultanan Demak awal abad kelima belas. Kupat yang bentuknya persegi empat dalam masyarakat Jawa juga seringkali dimaknai kiblat papat lima pancer, sebagai nasihat keseimbangan alam terkait empat arah mata angin yang bertumpu pada satu pusat. Bagi masyarakat Jawa, kupat konon diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Dalam perkembangannya, kupat ini menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara sebagai hidangan utama saat hari Lebaran. Pengaruh Wali Songo dan murid-muridnya dalam penyebaran agama Islam masa itu konon membuat makanan khas hari Lebaran tersebut tersebar ke berbagai daerah di Nusantara.

Oleh masyarakat Jawa, kupat juga seringkali dikaitkan dengan akronim laku papat yang berarti empat tindakan, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran berarti usai, yaitu menjadi penanda selesainya waktu menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Luberan berarti melimpah, yaitu ajaran untuk berbagi kebahagiaan dan rezeki kepada Sebagian masyarakat yang masih kekurangan dan memiliki hak menerimanya. Leburan yang berarti melebur dan menghilangkan dosa atas segala kesalahan dengan saling memberikan maaf. Dan laburan yang berarti kapur yang berwarna putih bersih yang melambangkan kita kembali kepada kesucian.

Tradisi bakda kupat terkandung filosofis yang diwariskan selama masa penyebaran Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa. Dengan demikian, mengingat betapa akrabnya masyarakat muslim nusantara kepada tradisi ini, maka penting pula untuk melestarikan kearifan lokal ini, agar generasi mendatang masih dapat merasakannya. Bentuk melestarikannya adalah dengan tetap melanjutkan tradisi baik di masa sekarang serta menurunkan nilai-nilai filosofis tradisi kupatan kepada masyarakat generasi berikunya sebagai bagian dari kearifan sosial (local wisdom).

Pesta Lomban di Pantai Jepara

Tradisi Syawalan atau bakda kupat di wilayah sekitar pantai Jepara hingga Rembang lebih dikenal dengan Pesta Lomban. Pesta Lomban adalah pesta masyarakat nelayan di wilayah tersebut yang pada awalnya terkait dengan sedekah laut. Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat Jepara disebutkan berasal dari kata lelumban atau masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang di laut. Dalam perayaan tersebut, mereka mempersiapkan berbagai peralatan untuk keperluan perayaan yang bentuknya seperti perang-perangan di lautan.  Peralatan bisa berupa berbagai macam minuman dan makanan, khususnya ketupat.

Dalam pesta lomban terkandung beberapa nilai pendididkan dan nasihat yang bisa kita petik. Di antaranya, pentingnya menjaga silaturahmi, sikap kekeluargaan, perlunya gotong-royong, perlunya rekreasi, dan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan dengan alam. Tradisi Syawalan atau bakda kupat yang diwariskan sejak masa penyebaran Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, yang masih dipertahankan oleh masyarakat hingga sekarang ternyata memberikan pesan dan nasihat yang bijak kepada kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan melanjutkan tradisi baik ini sebagai bagian dari kearifan lokal (local wisdom).

Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum. (Ketua Departemen Susastra, FIB UNDIP)

RELATED POSTS

Lirik Lagu KAWIN KONTRAK – KADES HOHO ALKAF & LALA WIDY (LIVE LEMBAYUNG MUSIC)

SMK Muhammadiyah Kajen Raih Juara Futsal MILAD ke-6 UMPP 2025

Lirik Lagu Dini Kurnia – BOKONG SEMOK (Official Music Video) || FYP Tik Tok

sukarjo 1

Pasca keramaian perayaan Idul Fitri yang bisa kita saksikan di berbagai wilayah di Indonesia, akhirnya tibalah awal bulan Syawal yang seringkali dimaknai sebagai bulan penuh kemenangan. Ada beragam jenis perayaan dan tradisi di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memperingati awal bulan kalender Hijriah yang biasa juga disebut sebagai tradisi Syawalan tersebut. Beragam jenis perayaan dan tradisi Syawalan biasanya diselenggarakan dengan menonjolkan kekhasan dan keunikan masing-masing daerah di daerah perayaan tersebut dilaksanakan.

Manusia disebut sebagai makhluk homo festivus atau makhuk yang senang mengkreasi berbagai festival atau perayaan. Satu di antaranya adalah festival yang bernuansa kegamaan, seperti perayaan tradisi Syawalan yang dilaksanakan beberapa hari setelah hari Lebaran, di beberapa tempat di Jawa biasanya dilaksanakan pada hari ke delapan atau di undur hingga akhir pekan pada bulan Syawal. Pada hari tersebut, masyarakat secara bersama-sama akan merasa perlu merayakan tradisi Syawalan.

Bakda Kupat

Satu pekan setelah merayakan hari Lebaran (Idul Fitri), masyarakat di beberapa daerah akan mengadakan perayaan kembali, yaitu tradisi Syawalan yang biasa disebut bakda kupat (lebaran ketupat). Di sebut Syawalan karena pelaksanaannya pada bulan syawal dan diadakan setelah hari Lebaran Sebagian masyarakat juga menyebutnya dengan bakda kupat karena sudah lazim kebanyakan orang saat itu banyak membuat kupat (ketupat). Dalam perayaan tersebut secara sederhana di berbagai daerah adalah diadakannya doa bersama, selanjutnya para warga mengadakan tukar-menukar ketupat yang dibawanya. Di beberapa daerah, para warga mengadakan acara berebut ketupat untuk memeriahkan perayaan. Di beberapa daerah, makanan lain yang juga ada selain ketupat adalah lepet, apem, dan buah-buahan.

Tradisi bakda kupat konon merupakan salah satu perayaan setelah hari Lebaran yang sudah ada sejak lama, yaitu pada era Kesultanan Demak awal abad kelima belas. Kupat yang bentuknya persegi empat dalam masyarakat Jawa juga seringkali dimaknai kiblat papat lima pancer, sebagai nasihat keseimbangan alam terkait empat arah mata angin yang bertumpu pada satu pusat. Bagi masyarakat Jawa, kupat konon diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Dalam perkembangannya, kupat ini menyebar ke berbagai wilayah di Nusantara sebagai hidangan utama saat hari Lebaran. Pengaruh Wali Songo dan murid-muridnya dalam penyebaran agama Islam masa itu konon membuat makanan khas hari Lebaran tersebut tersebar ke berbagai daerah di Nusantara.

Oleh masyarakat Jawa, kupat juga seringkali dikaitkan dengan akronim laku papat yang berarti empat tindakan, yaitu lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Lebaran berarti usai, yaitu menjadi penanda selesainya waktu menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Luberan berarti melimpah, yaitu ajaran untuk berbagi kebahagiaan dan rezeki kepada Sebagian masyarakat yang masih kekurangan dan memiliki hak menerimanya. Leburan yang berarti melebur dan menghilangkan dosa atas segala kesalahan dengan saling memberikan maaf. Dan laburan yang berarti kapur yang berwarna putih bersih yang melambangkan kita kembali kepada kesucian.

Tradisi bakda kupat terkandung filosofis yang diwariskan selama masa penyebaran Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa. Dengan demikian, mengingat betapa akrabnya masyarakat muslim nusantara kepada tradisi ini, maka penting pula untuk melestarikan kearifan lokal ini, agar generasi mendatang masih dapat merasakannya. Bentuk melestarikannya adalah dengan tetap melanjutkan tradisi baik di masa sekarang serta menurunkan nilai-nilai filosofis tradisi kupatan kepada masyarakat generasi berikunya sebagai bagian dari kearifan sosial (local wisdom).

Pesta Lomban di Pantai Jepara

Tradisi Syawalan atau bakda kupat di wilayah sekitar pantai Jepara hingga Rembang lebih dikenal dengan Pesta Lomban. Pesta Lomban adalah pesta masyarakat nelayan di wilayah tersebut yang pada awalnya terkait dengan sedekah laut. Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat Jepara disebutkan berasal dari kata lelumban atau masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang di laut. Dalam perayaan tersebut, mereka mempersiapkan berbagai peralatan untuk keperluan perayaan yang bentuknya seperti perang-perangan di lautan.  Peralatan bisa berupa berbagai macam minuman dan makanan, khususnya ketupat.

Dalam pesta lomban terkandung beberapa nilai pendididkan dan nasihat yang bisa kita petik. Di antaranya, pentingnya menjaga silaturahmi, sikap kekeluargaan, perlunya gotong-royong, perlunya rekreasi, dan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan dengan alam. Tradisi Syawalan atau bakda kupat yang diwariskan sejak masa penyebaran Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, yang masih dipertahankan oleh masyarakat hingga sekarang ternyata memberikan pesan dan nasihat yang bijak kepada kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan melanjutkan tradisi baik ini sebagai bagian dari kearifan lokal (local wisdom).

Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum. (Ketua Departemen Susastra, FIB UNDIP)

ShareTweetSend
Redaksi Warga Berita

Redaksi Warga Berita

Related Posts

Lirik Lagu KAWIN KONTRAK – KADES HOHO ALKAF & LALA WIDY (LIVE LEMBAYUNG MUSIC)
Musik

Lirik Lagu KAWIN KONTRAK – KADES HOHO ALKAF & LALA WIDY (LIVE LEMBAYUNG MUSIC)

9 Oktober 2025
SMK Muhammadiyah Kajen Raih Juara Futsal MILAD ke-6 UMPP 2025
Uncategorized

SMK Muhammadiyah Kajen Raih Juara Futsal MILAD ke-6 UMPP 2025

16 Juni 2025
Lirik Lagu Dini Kurnia – BOKONG SEMOK (Official Music Video) || FYP Tik Tok
Uncategorized

Lirik Lagu Dini Kurnia – BOKONG SEMOK (Official Music Video) || FYP Tik Tok

16 Juni 2025
Lirik Lagu Twenty One Pilots – The Contract (Official Video)
Musik

Lirik Lagu Twenty One Pilots – The Contract (Official Video)

9 Oktober 2025
Lirik Lagu Eno Smaper, Nathh – Kita Deal (Official Music Video)
Musik

Lirik Lagu Eno Smaper, Nathh – Kita Deal (Official Music Video)

9 Oktober 2025
Lirik Lagu Mawar de Jongh – Tinggal (Original Soundtrack ‘Tinggal Meninggal’) | Official Lyric Video
Musik

Lirik Lagu Mawar de Jongh – Tinggal (Original Soundtrack ‘Tinggal Meninggal’) | Official Lyric Video

9 Oktober 2025
Next Post
Tak Ada Dalam Sejarah Pilpres Diulang

Yusril akan Menghadap Prabowo Laporkan Kemenangan

Koalisi Perubahan Sudah Selesai – Warga Berita

Koalisi Perubahan Sudah Selesai – Warga Berita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended Stories

  • All
  • Daerah
Sumanto Kembali Terpilih Sebagai Ketua DPRD Jateng Periode 2024-2029

Ini Daftar Ketua dan Wakil Ketua DPRD Jateng Periode 2024-2029

21 Maret 2025
Daftar Tunjangan Bawaslu 2024 yang Naik

Bawaslu Klaim Penggelembungan Suara Tak Hanya Dialami PSI Saja

6 Maret 2024
Dinas Pendidikan Banyumas raih dua penghargaan BBPMP Jateng

Dinas Pendidikan Banyumas raih dua penghargaan BBPMP Jateng

21 Februari 2024

Popular Stories

  • Link Video Viral Chela Pramuka di Situs Terabox dan Doods

    Link Video Viral Chela Pramuka di Situs Terabox dan Doods

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paah Cantek Viral Terabox: Konten Pribadi Tiktoker Malaysia Tersebar di Telegram

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Link Video Cikgu CCTV Wiring, Terabox & Doodstream

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Buka Link Terabox Viral, Aman atau Tidak?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Lebih Suka Link Video Viral di Situs Doodstream, Malaysia Lebih Pilih Video Viral Melayu di Terabox

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berita Video
  • DISCLAIMER
  • Homepage
  • Jangan Buru Buru, Cari Tau Aja Dulu
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang WargaBerita.com
MEDIA WARGA BERITA
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Tekno
  • Bola
  • Musik

Berita Warga Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In