Oleh : Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM, M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “Bekerjalah kamu, maka, Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS : At- Taubah : 105).
Mukadimah
Inovasi merupakan proses untuk mewujudkan, mengkombinasikan, atau mematangkan suatu pengetahuan/gagasan ide, yang kemudian disesuaikan guna mendapat nilai baru suatu produk, proses, atau jasa. Kata inovasi berasal dari Bahasa Inggris innovation yang berarti perubahan sehingga inovasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan atau pemikiran manusia dalam menemukan sesuatu yang baru yang berkaitan dengan input, proses, dan output, serta dapat memberi manfaat dalam kehidupan manusia.
Adapun tujuan inovasi secara umum adalah sesuatu bentuk kebutuhan yang ingin diwujudkan melalui kegiatan mengkonstruksi pemikiran dengan diimplementasikan dalam tindakan nyata atau pekerjaan nyata untuk menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan harapan yang diinginkan.
Untuk menciptakan inovasi perlu perencanaan yang jelas dan terstruktur. Sebab, inovasi yang dibuat oleh seorang inovator bisa mempengaruhi kehidupan di masa depan. Maka dari itu, inovasi harus memiliki perencanaan yang matang, jangan sampai dilakukan secara tergesa-gesa sehingga inovasi yang diciptakan malah tidak sesuai. Hadirnya inovasi tentu memiliki manfaat bagi masyarakat luas, sebab sebuah inovasi akan memberikan dampak yang positif.
Inovatif Ramadan pada level implisitnya berasal dari sabda Nabi Muhammad SAW yang mengandung imajinasi Ramadan yang berdaya kreatif tinggi. Sebut saja, misanya, kata i’tqu min an-nar (bulan bebas dari api neraka). Secara semantik kata bebas dari api neraka memiliki makna dan imajinasi yang dalam. Tidak boleh dipahami secara simbolik sehingga menyikapinya hanya sebatas amal ritual permohonan ampun pada Allah yang signifikansi praksisnya juga sangat terbatas. Dengan amalan Ramadan berarti harus melakukan pembebasan dosa Warga Berita lain dari dosa terhadap negara, prilaku aroganisme, kebodohan, kemiskinan, intoleransi, kebahilan juga dosa etos kerja.
Bulan Ramadan dapat menjadi ujian awal untuk menguji etos kerja seseorang dalam bekerja dan merupakan sebuah amalan yang dianjurkan dalam Islam. Sebagai manusia harus pandai bersyukur dengan segala karunia kesehatan, kesejahteraan, dan kekuatan yang diberikan Allah SWT salah satunya adalah untuk meningkat etos kerja. Meskipun kita berpuasa sambil bekerja, kita harus selalu menjaga etos kerja dan meningkatkan produktivitas kita agar dapat mencapai kesuksesan dalam dunia dan akhirat. Jika etos kerja meningkat selama Ramadhan, maka sudah bisa dipastikan secara alamiah bahwa produktivitas kerjanya juga terus meningkat pada bulan-bulan setelah Ramadan.
Bekerja merupakan suatu komitmen hidup yang harus dipertangungjawabkan kepada Tuhan. Hal yang tidak kalah penting, di bulan yang penuh berkah ini hendaknya menjadi sarana intropeksi diri dan perbaikan iman, akhlaq, moral serta hati.
Wahana Pengabdian
Bulan suci Ramadan sebagai wahana untuk meningkatkan pengabdian, dalam etos kerja sekaligus kinerja di semua satuan yang ditempati saat ini. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, tanggung jawab, taat azas dan lainnya itu haruslan dijadikan sebagai penguat dalam tugas dan kinerja.
Ada sejumlah nilai atau value yang begitu penting dalam peningkatan kualitas diri manusia. Di antaranya ialah melatih kesabaran, pengendalian diri termasuk pengendalian dari sisi kebinatangan, pengendalian emosi, mampu menahan berbagai jenis nafsu, meneguhkan jiwa hingga berujung pada peraihan dan pencapaian pribadi taqwa.
Puasa jika dikaitkan dengan kehidupan sosial masyarakat serta terkait kinerja dan pelaksanaan tanggung jawab juga banyak ditemukan dalam berbagai literasi. Di antaranya bulan Ramadan juga merupakan momentum yang mengajarkan soal solidaritas dan kepedulian sosial. Selain itu, puasa juga mendidik dan melatih soal meningkatkan disiplin diri, mengatur pola makan dan pola tidur, kekuatan fisik, tanggung jawab (responsibility) dan lain sebagainya.
Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki diri, termasuk dalam hal meningkatkan etos kerja dan produktivitas. Puasa bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, puasa harus menjadi motivasi untuk meningkatkan produktivitas dan etos kerja. Dalam berpuasa, kita diharuskan untuk menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, yang tentunya membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kedisiplinan yang tinggi. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mengatur jadwal kerja dan kegiatan sehari-hari secara lebih baik.
Bulan suci Ramadan haruslah dijadikan sebagai momentum untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam hal ibadah, silaturahim, integritas, jujur dan berkarakter kuat. Semua ibadah dilipat gandakan pahalanya dan nilai ibadahnya tinggi untuk beraktivitas dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja yang baik. Selain itu, puasa di bulan Ramadhan juga mempunyai banyak spirit, Warga Berita lain meningkatnya etos kerja manusia dalam menjalani rutinitas pekerjaanya.
Sebagai wahana pengabdian terutama pada bulan puasa, diantaranya yaitu : Pertama, dapat meningkatkan etos kerja dan produktivitas bekerja. Kedua, Bersyukur atas pekerjaan yang dimiliki, sehingga merasa tenang dalam kehidupan dan akan bekerja dari dalam hati. Ketiga, Menjaga dan mengatur waktu dengan baik saat berpuasa, karena harus membaginya Warga Berita bekerja, beribadah, dan beristirahat. Keempat, dapat Menjaga kesehatan tubuh dan pikiran etika kita berpuasa, sehingga tubuh tetap sehat, kualitas dan kuantitas pekerjaan kita akan tetap terjaga.
Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM, M.Sc, adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional).












