PANDEGLANG,Warga Berita–Direktur RSUD Berkah Pandeglang Dr. Firmansyah buka suara soal tunggakan utang yang membengkak sebesar Rp 2 miliar ke UDD PMI Pandeglang.
Dia berjanji akan membayar utang tersebut, mengingat pentingnya persediaan darah bagi masyarakat.
Dr. Firmansyah, menyampaikan dalam situasi yang mendesak ini, pihaknya akan segera menyelesaikan tunggakan utang kepada PMI dengan cara mencicil, untuk memastikan kelancaran pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak terganggu.
“Nah memang yang mau kita bayarkan ini, kita enggak bisa bicara anggaran yang ke belakang karena kita anggarannya di tahun 2024 ya mau enggak mau kita bayarkan di tahun ini kecuali kalau kita mampu bayar dari BLUD itu sendiri sesuai dengan kemampuan anggaran,” ungkapnya, Senin 13 Mei 2024.
“Ya kita mau mencicil dibayarkan sesuai dengan kemampuan anggaran kita juga, makanya tadi disupporting dari ibu Bupati, yang penting kita bisa bayarkan bisa kita cicilkan,” sambungnya.
Ia menyebutkan pihaknya sudah menyediakan anggaran untuk membayar tunggakan utang tersebut sebesar Rp 166 juta secara bertahap.
“Kami sudah menyiapkan anggaran di bawah 200 juta rupiah, tepatnya sekitar 166 juta rupiah, namun pembayaran harus menunggu penandatanganan MoU terlebih dahulu,” tuturnya.
Ia memahami kemampuan PMI sudah sangat tidak bisa dibendung untuk bisa memenuhi biaya operasional-nya tersebut. Ia mengaku dengan kondisi itu ke depannya harus bisa lebih baik lagi.
Dia menyadari bahwa kemampuan PMI sudah tidak dapat dibendung untuk memenuhi biaya operasionalnya. Dia mengakui bahwa nantinya ke depannya, mereka harus dapat berkinerja lebih baik lagi.
“Tetap saya harus bertanggungjawab, saya tidak melihat siapa masalah beberapa tahun kebelakang, itu sudah tanggungjawab saya sebagai pimpinan untuk mencari solusi apa yang kami lakukan hal yang lain juga sama,” jelasnya.
Dr. Firmansyah melanjutkan, bahwa persediaan darah untuk pasien thalasemia dan hemodialisis (HD) telah disiapkan bagi yang telah memesan di UDD PMI Pandeglang.
Namun, RSUD Berkah Pandeglang masih kesulitan memenuhi permintaan pasokan darah yang lebih besar ke rumah sakit karena masih ada tunggakan utang kepada PMI.
“Keluarga pasien yang telah mendonor sebelumnya telah diberikan persediaan darah sesuai kebutuhan mereka, namun untuk permintaan tambahan masih tertunda karena ada tunggakan yang harus kami bayarkan kepada PMI,” ucapnya.
Menurutnya, masalah kebutuhan darah ini dirasakan juga oleh banyak kabupaten/kota selain Kabupaten Pandeglang.
“Tapi karena anggaran PMI sudah habis, sudah wajar mereka menyampaikan hal tersebut. Itu hal yang bisa dimaklumi, ya boleh-boleh saja,” ujarnya.
Dia menjelaskan biaya darah yang tinggi disebabkan oleh biaya operasional Unit Donor Darah (UDD). Operasional tersebut mencakup biaya pemeriksaan dan uji laboratorium darah, serta biaya pembelian kantong darah.
Sebelum darah dapat digunakan oleh pasien, harus melalui serangkaian pengecekan medis lainnya.
“Karena harus melewati beberapa tahapan pemeriksaan darah, itulah mengapa harga satu kantong darah menjadi mahal. Salah satunya adalah biaya operasional UDD. Oleh karena itu, harga satu kantong darah mencapai Rp 490 ribu. Pasien tidak dapat membayarnya melalui BPJS karena penerimaan darah disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan stok di PMI,” tambahnya.
Sebelumnya diberitakan, Ketua Komisi IV DPRD Pandeglang, M. Habibi Arafat, bakal segera memanggil Direktur RSUD Berkah Pandeglang Dr Firmansyah soal tunggakan utang sebesar Rp 2 miliar kepada Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Cabang Pandeglang.
Sebagaimana diketahui, tunggakan utang dari RSUD Berkah Pandeglang ke UDD PMI Pandeglang menyebabkan banyak pasien tak dapat melakukan transfusi darah dan ketersediaan darah tak bisa memenuhi kebutuhan bagi pasien dengan penyakit thalasemia maupun hemodialisis (HD) yang baru. (*)
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











