Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan Pemerintah Kota Pekalongan sejak 17 Februari 2025 terus mendapat pengawasan ketat untuk memastikan kualitas gizi dan keamanan pangan bagi 6.000 siswa penerima manfaat. Program ini menyasar siswa dari tingkat TK hingga SMA sederajat, dengan tujuan mendukung tumbuh kembang anak dan meningkatkan konsentrasi belajar di sekolah.
Erni Setyo Kurnia Sari, Ahli Gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapur MBG wilayah Kecamatan Pekalongan Barat, menjelaskan bahwa menu yang disajikan dalam program ini telah memenuhi standar gizi yang ditetapkan. “Sejak Program MBG direalisasikan, menu yang disajikan berbeda setiap harinya. Kami memastikan bahwa makanan yang diberikan memenuhi kebutuhan gizi siswa,” ujar Erni pada Jumat (28/2/2025).
Pengawasan Ketat dari Hulu ke Hilir
Erni menegaskan bahwa pihaknya melakukan pengawasan ketat mulai dari proses persiapan bahan, pengolahan, hingga distribusi makanan. “Sebelum proses memasak, kami memastikan alat dan bahan yang digunakan steril. Chef yang memasak juga wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Kami memantau langsung proses pencucian, memasak, pengemasan, hingga distribusi makanan untuk memastikan tidak ada kontaminasi hewan, barang asing, atau bahan tambahan makanan yang tidak sehat,” jelasnya.
Selain itu, kebersihan lingkungan dapur, penyimpanan bahan pangan, dan proses penyajian juga menjadi fokus pengawasan. Hal ini dilakukan untuk memastikan makanan yang disajikan aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan risiko kesehatan bagi siswa.
Program MBG di Kota Pekalongan saat ini mengandalkan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bekerja sama dengan catering terpercaya. Untuk wilayah Kecamatan Pekalongan Barat, program ini bekerja sama dengan Prambanan Catering, sementara di Kecamatan Pekalongan Utara, Catering Ibu Bahiyah yang ditunjuk sebagai mitra.
Maysaroh, Sanitarian Muda pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan, menambahkan bahwa pihaknya turut mengawal keamanan pangan dalam program ini. “Kami melakukan pemantauan mulai dari kebersihan lingkungan dapur, penyimpanan bahan pangan, proses memasak, hingga penyajian. Pekerja yang terlibat juga diberikan pelatihan untuk memastikan makanan yang disajikan aman dan tidak menyebabkan penyakit,” ujar Maysaroh.
Uji Laboratorium untuk Jaminan Kualitas
Untuk memastikan kualitas dan keamanan pangan, bahan pangan yang digunakan dalam program MBG juga melalui uji laboratorium. Sampel makanan dan usap alat dapur diperiksa untuk memastikan higiene dan sanitasi yang memadai. Selama 10 hari program berjalan, Maysaroh mengaku bersyukur karena belum ditemukan kasus keracunan makanan di antara siswa penerima manfaat.
“Memang sempat ada laporan kasus alergi pada anak, tetapi ini tidak terjadi pada setiap siswa. Alergi tersebut lebih disebabkan oleh kondisi individu, bukan karena kualitas makanan,” jelas Maysaroh.
Program MBG di Kota Pekalongan dirancang untuk memberikan dampak positif bagi siswa, terutama dalam mendukung tumbuh kembang dan meningkatkan konsentrasi belajar. Dengan menu bergizi yang bervariasi setiap harinya, diharapkan siswa dapat memperoleh asupan nutrisi yang seimbang dan optimal.
Erni menambahkan, “Program ini tidak hanya sekadar memberikan makanan, tetapi juga memastikan bahwa makanan tersebut berkualitas dan aman dikonsumsi. Ini adalah investasi untuk masa depan anak-anak kita.”












