Polda Metro Jaya mengklaim kesiapan penuh mengawal kebijakan pemerintah dalam menertibkan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dinilai meresahkan masyarakat. Hal ini disampaikan menyusul keberhasilan Operasi Berantas Jaya 2025 yang digelar pada 9-23 Mei 2025, dengan total 3.599 orang diamankan dan 348 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.
“Polri Siap Kawal Kebijakan Pemerintah”
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Wira Satya Triputra, menegaskan komitmen institusinya dalam mendukung langkah pemerintah. “Apa pun kebijakan terkait ormas, Polri siap mengawal dan menindak tegas yang melanggar hukum,” ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (27/5).
Operasi ini menyasar premanisme yang kerap berlindung di balik aktivitas ormas. Dari 348 tersangka, 56 orang diduga merupakan oknum ormas yang terlibat praktik pemalakan, penguasaan lahan ilegal, hingga ancaman kekerasan.
Rincian Operasi Berantas Jaya 2025
Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya, Kombes Pol. I Ketut Gede Wijatmika, memaparkan detail operasi dalam konferensi pers:
-
3.599 orang diperiksa selama 14 hari operasi.
-
348 tersangka meliputi kasus premanisme (275 orang), narkoba (42), dan kepemilikan senjata tajam ilegal (31).
-
56 oknum ormas diduga menjadi otak dari jaringan preman berkedok lembaga sosial.
“Mereka memanfaatkan nama ormas untuk mengintimidasi warga dan menarik pungli. Ini tidak bisa ditoleransi,” tegas Wijatmika.
Polda: Preman Berkedok Ormas Jadi Ancaman Serius
Wijatmika menyebut, modus operandi tersangka kerap melibatkan penguasaan lahan kosong, pemalakan pedagang, hingga memaksa pembayaran “iuran keamanan”. “Contohnya, di kawasan Tanah Abang dan Pasar Senen, premanisasi masih marak. Kami akan terus bergerak hingga masyarakat merasa aman,” tambahnya.
Peringatan untuk Ormas: Jangan Langgar Hukum
Polda Metro Jaya mengimbau ormas untuk tidak menyalahgunakan kegiatan sosial sebagai kedok tindak kriminal. “Kami akan bubarkan ormas yang terbukti melanggar. Masyarakat juga diharap melapor jika ada gangguan,” pesan Wira Satya Triputra.
Operasi serupa rencananya akan digelar secara berkala, terutama di kawasan rawan premanisme seperti terminal, pasar, dan permukiman padat penduduk.












