Forum Komunikasi Developer (FKD) Jawa Tengah mengumumkan kelulusan 26 pengembang dalam proses sertifikasi yang diharapkan dapat mendukung program pemerintah dalam pembangunan 3 juta rumah subsidi. Pengumuman ini disampaikan oleh Ketua FKD Jateng, Eko Purwanto, pada acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Sertifikasi Registrasi Pengembang Perumahan (SRP2) Angkatan 2 di Semarang.
Program bimbingan teknis ini telah dilaksanakan dalam dua angkatan dengan total peserta mencapai 187 pengembang. Angkatan pertama diikuti oleh 95 pengembang, sementara angkatan kedua dihadiri 92 pengembang. Namun, dari total peserta tersebut, baru 26 pengembang yang berhasil memperoleh sertifikasi.
Eko Purwanto menjelaskan bahwa kegagalan sebagian pengembang dalam proses sertifikasi disebabkan oleh kesalahan dalam mengirimkan perwakilan. Menurutnya, pemilik perusahaan yang mengikuti langsung program ini memiliki peluang kelulusan lebih tinggi karena materi ujian mencakup aspek teknis dari persiapan lahan hingga layanan purna jual.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Arief Djatmiko, menyatakan bahwa sertifikasi ini merupakan langkah penting dalam menciptakan standarisasi pengembang di Jawa Tengah. Standarisasi ini diperlukan untuk mendukung program pembangunan rumah subsidi melalui skema Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP).
Djatmiko menekankan komitmen Disperakim untuk terus menyelenggarakan bimbingan teknis, memastikan kesiapan Jawa Tengah dalam mengimplementasikan program perumahan nasional. Hal ini juga mengantisipasi kemungkinan penambahan kuota FLPP dari pemerintah pusat untuk provinsi yang telah siap.
“Yang tidak lolos kendalanya sampai saat ini biasanya pengembang salah mengirimkan karyawan atau staf, kalau owner berangkat pasti lolos semua. Sebab, pertanyaan lebih ke teknis persiapan lahan, hingga after sales nya,” ujarnya.
Data dari Disperakim mencatat terdapat 1.544 pengembang perumahan aktif di Jawa Tengah yang tergabung dalam 16 asosiasi. Himperra memimpin dengan 468 anggota, diikuti REI dengan 407 pengembang, dan Apernas dengan 309 pengembang. Apersi berada di posisi keempat dengan 204 anggota.
Asosiasi lainnya termasuk Deprindo dengan 39 pengembang, Asprumnas dengan 28 anggota, Apernas Jaya dengan 26 anggota, dan ADPS dengan 25 pengembang. Apperindo memiliki 18 anggota, sementara Hipnu dan PIN masing-masing memiliki 13 pengembang. Aspprin dan Perwiranusa masing-masing beranggotakan 4 pengembang, Perumnas dengan 3 anggota, PI dengan 2 anggota, dan APSI dengan 1 pengembang.












