Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan bahwa sepanjang tahun 2012-2023, tercatat 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia, dengan 985 kasus atau 46,63 persen di antaranya melibatkan remaja. Data ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan dalam kesehatan mental remaja Indonesia.
Temuan terbaru dari penelitian yang dilakukan oleh Ayu Khoirotul Umaroh, S.K.M., M.K.M., ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Bertentangan dengan anggapan umum, penelitian menunjukkan bahwa remaja laki-laki justru lebih rentan terhadap kasus bunuh diri dibandingkan remaja perempuan.
Dikutip dari website Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ayu menjelaskan bahwa perilaku bunuh diri terbagi dalam tiga tingkatan: suicidal thought (ide bunuh diri), rencana bunuh diri, dan tindakan bunuh diri. Penelitiannya, yang diterbitkan dalam jurnal Q1 Scopus Psychology, Health, & Medicine, mengidentifikasi dua faktor utama yang memengaruhi hasrat bunuh diri pada remaja: dukungan teman sebaya (peer support) dan dukungan orang tua (parental support).
Analisis data menunjukkan hasil yang mengejutkan. Remaja laki-laki yang tidak mendapat dukungan teman sebaya memiliki risiko 4,23 kali lebih tinggi untuk mengalami hasrat bunuh diri dibandingkan remaja perempuan. Risiko ini meningkat 2,48 kali tanpa dukungan orang tua, dan 3,27 kali lebih tinggi jika mereka tidak terbuka kepada orang tua mereka.
Ayu mengidentifikasi dua faktor utama yang berkontribusi terhadap kerentanan ini. Pertama, perubahan hormon testosteron pada remaja laki-laki. Mengutip penelitian Tiffany Ho dari University of California Los Angeles (2022) dan Billy C. Roland dari Texas State University, ditemukan bahwa kandungan hormon testosteron lebih tinggi pada jasad pelaku bunuh diri dibanding jasad dengan sebab kematian lain.
Faktor kedua adalah maskulinitas tradisional yang masih mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Penelitian Muhammad Fadhil Fikri Ramdani dari Universitas Negeri Surabaya mengonfirmasi bahwa Indonesia masih kental dengan pandangan bahwa laki-laki harus selalu kuat, tegar, dan tidak boleh menampakkan kesedihan di muka umum. Kondisi ini menyebabkan remaja laki-laki cenderung memiliki lingkaran pertemanan yang lebih kecil dan kesulitan membangun kedekatan emosional.
Data historis WHO pada 2017 menunjukkan bahwa 3,9 persen dari 8.899 remaja Indonesia pernah melakukan percobaan bunuh diri setidaknya sekali dalam 12 bulan. Lebih lanjut, Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kelima di Asia Tenggara dengan 3,7 kematian per 100 ribu penduduk, di bawah Thailand yang mencatat 12,9 kematian per 100 ribu penduduk.
Untuk mengatasi masalah ini, Ayu menekankan pentingnya membangun sistem dukungan yang kuat. Para guru diharapkan dapat memperkenalkan peran peer support secara bertahap, sementara orang tua perlu lebih terbuka terhadap perkembangan zaman dan mampu merespons dengan baik ketika remaja menghadapi masalah.
Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya mengurangi stigma terhadap remaja laki-laki yang mengekspresikan emosi mereka. Sarah McKenzie dari University of Otago menemukan bahwa perilaku orang tua yang menyepelekan emosi anak dengan kata-kata seperti “Lah, cuma kayak begitu, lho” atau “Jangan cengeng” dapat mencegah anak mengungkapkan perasaan mereka secara terbuka.
“Ada satu kejadian bunuh diri itu sudah suatu kegawatan,” tegas Ayu, menekankan pentingnya setiap kasus bunuh diri dipandang sebagai masalah serius. Menurutnya, membangun kedekatan antara orang tua dan anak, serta menciptakan lingkungan yang mendukung di kalangan remaja, adalah kunci untuk mencegah kasus bunuh diri di kalangan remaja, terutama remaja laki-laki.













