LEBAK, Warga Berita – Harga beras yang saat ini tidak terkendali di seluruh willayah Indonesia membuat masyarakat mengeluh. Terkait dengan harga tersebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak angkat bicara dan ungkap penyebabnya.
Kabid Perdagangan Disperindag Lebak Yani mengungkapkan, terkait harga beras mahal disebabkan karena pasokan gabah berkurang sehingga memicu harga yang terus naik.
“Stok beras berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) diperkirakan sedang mengalami defisit sebesar 2,7 juta ton pada periode Januari-Februari 2024,” kata Yani kepada Warga Berita, Rabu 21 Februari 2024.
Dijelaskan Yani, menipisnya stok gabah membuat pemerintah pusat akan melakukan impor beras dari Thailand untuk mengatasi harga beras yang mahal.
“Karena gabah pasokan kurang, pemerintah akan impor sebanyak 2 juta ton beras dari Thailand,” tutur Yani.
Terkait kondisi tersebut, Yani mennyebutkan, harga yang mahal juga mendapat respon Presiden Joko Widodo bahwa harga beras mahal di semua negara.
“Harga mahal karena ada perubahan iklim, ada yang namanya perubahan cuaca, sehingga gagal panen produksi berkurang sehingga harganya naik,” ucap Yani.
Diketahui harga beras di Pasar Rangkasbitung, beras premium Rp 18.000 perkilogram, beras KW 1 Rp 15.000 perkilogram dan beras KW 2 Rp 14.000 perkilogram.
Sementara Anwar menyebutkan, saat ini harga beras masih bertahan di harga Rp 14.000 – Rp 18.000 perkilpgram.
“Untuk harganya masih bertahan, karena saat ini permintaan tinggi tapi pasokan berkurang. Sehingga harganya semakin mahal,” pungkasnya.
Ditambahkannya, pembeli banyak yang mengeluh terkait dengan harga beras yang mahal dalam dua bulan terakhir.
“Semoga harganya kembali normal, supaya pembeli juga tidak terus-terusan mengeluh, karena kalo begini omzet juga berkurang,” pungkasnya.
Reporter: Nurandi
Editor: Abdul Rozak
LEBAK, Warga Berita – Harga beras yang saat ini tidak terkendali di seluruh willayah Indonesia membuat masyarakat mengeluh. Terkait dengan harga tersebut Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak angkat bicara dan ungkap penyebabnya.
Kabid Perdagangan Disperindag Lebak Yani mengungkapkan, terkait harga beras mahal disebabkan karena pasokan gabah berkurang sehingga memicu harga yang terus naik.
“Stok beras berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) diperkirakan sedang mengalami defisit sebesar 2,7 juta ton pada periode Januari-Februari 2024,” kata Yani kepada Warga Berita, Rabu 21 Februari 2024.
Dijelaskan Yani, menipisnya stok gabah membuat pemerintah pusat akan melakukan impor beras dari Thailand untuk mengatasi harga beras yang mahal.
“Karena gabah pasokan kurang, pemerintah akan impor sebanyak 2 juta ton beras dari Thailand,” tutur Yani.
Terkait kondisi tersebut, Yani mennyebutkan, harga yang mahal juga mendapat respon Presiden Joko Widodo bahwa harga beras mahal di semua negara.
“Harga mahal karena ada perubahan iklim, ada yang namanya perubahan cuaca, sehingga gagal panen produksi berkurang sehingga harganya naik,” ucap Yani.
Diketahui harga beras di Pasar Rangkasbitung, beras premium Rp 18.000 perkilogram, beras KW 1 Rp 15.000 perkilogram dan beras KW 2 Rp 14.000 perkilogram.
Sementara Anwar menyebutkan, saat ini harga beras masih bertahan di harga Rp 14.000 – Rp 18.000 perkilpgram.
“Untuk harganya masih bertahan, karena saat ini permintaan tinggi tapi pasokan berkurang. Sehingga harganya semakin mahal,” pungkasnya.
Ditambahkannya, pembeli banyak yang mengeluh terkait dengan harga beras yang mahal dalam dua bulan terakhir.
“Semoga harganya kembali normal, supaya pembeli juga tidak terus-terusan mengeluh, karena kalo begini omzet juga berkurang,” pungkasnya.
Reporter: Nurandi
Editor: Abdul Rozak












