Sekolah Dasar Negeri / SDN 4 Sambi, yang terletak di Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Sragen, mengalami insiden ambruknya atap bangunan sekolah pada Minggu, 1 September 2024. Ambruknya atap ini diduga disebabkan oleh kerusakan struktur kayu yang dimakan oleh rayap. Beruntung, kejadian tersebut terjadi pada hari libur, sehingga tidak ada korban jiwa.
Menurut Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sragen, Suwarno, ada empat ruangan yang mengalami kerusakan akibat insiden ini, tiga di antaranya adalah ruang kelas, dan satu lagi adalah gudang. Ruangan kelas yang rusak mencakup kelas 1, 2, dan 3. Kondisi ini memaksa sekolah untuk mengalihkan kegiatan belajar mengajar (KBM) ke luar ruangan.
“KBM di ruang perpustakaan dan di parkiran tempat sepeda. Perbaikan segera dijalankan kemudian anggaran tahun depan dilanjutkan,” ujar Suwarno, Senin (2/9/2024).
Saat ini, sekolah memanfaatkan perpustakaan dan area parkir sepeda sebagai tempat sementara untuk melanjutkan proses belajar mengajar. Dengan jumlah murid sekitar 72 siswa dari kelas 1 hingga 6, pihak sekolah harus segera mencari solusi agar pembelajaran dapat berlangsung dengan lebih nyaman dan aman.
Rencana Rehabilitasi
Suwarno juga menyebutkan bahwa sebenarnya bangunan sekolah ini sudah masuk dalam daftar rehabilitasi untuk tahun ini. Namun, sayangnya, atap sekolah tersebut lebih dulu ambruk sebelum proses rehabilitasi dapat dimulai. Bangunan yang didirikan pada tahun 2011 ini mengalami kerusakan pada balok gording akibat kayunya yang dimakan oleh rayap, sehingga tidak mampu lagi menopang beban atap.
“Kami sudah menganggarkan pembangunan senilai Rp 78 juta, dan sekarang diprioritaskan untuk bagian atap dulu. Pihak kami mengedepankan keamanan siswa,” jelas Suwarno.
Pihak sekolah dan Disdikbud sempat mempertimbangkan untuk menahan atap yang melengkung dengan menggunakan bambu, namun tidak berani mengambil risiko lebih lanjut.
Menyadari urgensi situasi ini, Disdikbud Kabupaten Sragen berencana untuk segera memperbaiki bagian atap yang rusak dan memastikan keamanan siswa menjadi prioritas utama. Meskipun rencana rehabilitasi telah ada, kejadian ini memaksa pihak terkait untuk mempercepat proses perbaikan, terutama pada bagian-bagian yang mengalami kerusakan parah.
Suwarno menegaskan bahwa perbaikan akan segera dilakukan, dan upaya untuk mencegah kejadian serupa di masa depan akan diperkuat. Sekolah diharapkan dapat kembali beroperasi normal setelah perbaikan selesai, sehingga siswa tidak perlu lagi belajar di luar ruang kelas.
Dengan insiden ini, diharapkan perhatian terhadap perawatan dan pemeliharaan infrastruktur sekolah, terutama yang berbahan kayu, dapat ditingkatkan guna mencegah kejadian serupa terjadi di sekolah-sekolah lain.












