SKK Migas mengungkapkan 10 Wilayah Kerja (WK) migas yang telah memasuki tahap Plan of Development (POD) atau Proposal Pengembangan mangkrak akibat tantangan komersial, infrastruktur, dan perubahan lanskap ekonomi. Proyek-proyek ini menghambat realisasi investasi senilai $1,8 miliar (Rp27 triliun) dengan potensi produksi 51,35 juta barel minyak dan 600 BCF gas.
Dampak Ekonomi dari 10 POD Mangkrak
Deputi Eksplorasi SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menyebut, 10 WK yang terhenti ini bisa menyerap 20 ribu tenaga kerja jika beroperasi. “Mengaktifkan kembali 10 POD jadi prioritas kami. Potensi ini terlalu besar untuk diabaikan,” tegasnya di IPA Convention & Exhibition, Tangerang, Kamis (30/5).
Berikut rincian potensi 10 WK mangkrak:
-
Produksi Minyak: 31.300 barel/hari (51,35 juta barel total).
-
Produksi Gas: 600 miliar kaki kubik (BCF).
-
Penyerapan Tenaga Kerja: 20.000 orang.
179 Temuan Migas yang Belum Dikembangkan
Selain 10 POD, Indonesia masih menyimpan 179 temuan migas yang belum dikembangkan, dengan perkiraan cadangan:
-
Minyak: 116 juta barel.
-
Gas: 0,4 triliun kaki kubik (TCF).
“Angka ini menunjukkan potensi hulu migas Indonesia masih sangat besar, tapi belum termanfaatkan optimal,” ujar Rikky.
Kebijakan Keras Bahlil Lahadalia untuk KKKS Lamban
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan akan menarik Wilayah Kerja (WK) dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang lamban menjalankan kewajiban. *“Jika dalam 5 tahun tidak ada progres, kami cabut izin dan lelang ulang WK-nya,”* tegas Bahlil.
Kebijakan ini juga menyasar 17 WK lain yang telah berstatus POD namun mundur jadwal onstream-nya, dengan estimasi produksi:
-
Minyak: 306 juta barel.
-
Gas: 18.351 BCF.
“Ini upaya memaksimalkan potensi migas untuk meningkatkan lifting nasional,” tambahnya.












