Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terus berinovasi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Salah satu kontribusinya adalah dengan meluncurkan Padi Protani, varietas unggul padi gogo yang tahan kekeringan dan memiliki potensi hasil tinggi. Padi Protani resmi dilepas sebagai varietas unggul oleh Menteri Pertanian pada tahun 2020 dan kini mulai ditanam di berbagai daerah, termasuk di Desa Cibentang, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes.
Keunggulan Padi Protani
Padi Protani memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya layak menjadi solusi untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Beberapa keunggulannya antara lain:
- Potensi Hasil Tinggi: Mampu menghasilkan hingga 9 ton per hektare.
- Tahan Kekeringan: Cocok ditanam di daerah dengan curah hujan rendah.
- Kandungan Protein Tinggi: Memiliki kadar protein 9-10%, yang bermanfaat untuk pencegahan stunting.
Penanaman Padi Protani di Brebes
Pada Kamis (6/3/2025), Prof. Dr. Ir. Noor Farid, M.Si, Wakil Rektor Bidang Akademik Unsoed, didampingi oleh tim peneliti, meninjau lokasi penanaman Padi Protani di Desa Cibentang, Brebes. Penanaman ini merupakan hasil kerja sama antara Korem 071/Wk dan Unsoed, dengan dukungan dari Kodim 0713/Brebes.
“Padi Protani yang ditanam di sawah Desa Cibentang tumbuh dengan baik. Selain itu, anakan padi dihitung mencapai 40 rumpun,” kata Prof. Farid.
Penanaman Padi Protani di Desa Cibentang dimulai pada 15 Januari 2025 dan melibatkan berbagai pihak, termasuk Letkol Sapto (Komandan Kodim 0823/Brebes), Prof. Dr. Sakhidin (Dekan Fakultas Pertanian), serta tim peneliti seperti Prof. Totok Agung DH, Dr. Dyah Susanti, dan Dr. Agus Riyanto.
Dukungan untuk Ketahanan Pangan dan Pencegahan Stunting
Prof. Totok Agung DH menjelaskan bahwa Padi Protani tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga berperan dalam pencegahan stunting. “Varietas unggul Padi Protani dengan daya hasil tinggi dan kandungan protein 9-10% berpotensi untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mencegah stunting,” ujarnya.
Dengan luas tanam mencapai 10 hektare, Padi Protani diprediksi menghasilkan 75 ton gabah kering panen. “Panen ini diharapkan akan berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan dan pencegahan stunting masyarakat desa,” harap Prof. Totok.
Kontribusi Unsoed dalam Ketahanan Pangan Nasional
Unsoed telah lama dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terdepan dalam riset pertanian. Selain Padi Protani, Unsoed juga telah menghasilkan beberapa varietas unggul lainnya, seperti Inpago Unsoed-1, Unsoed Parimas, Inpari Unsoed 79 Agritan, Inpari Unsoed P20 Tangguh, dan Green Super Rice (GSR).
“Terkait dengan program Pak Prabowo tentang pertanian dan ketahanan pangan, Unsoed telah menemukan beberapa kualitas padi yang sudah diakui secara nasional karena sudah ditanam di beberapa provinsi, termasuk di Kalimantan hingga Aceh. Hal ini menunjukkan kemampuannya beradaptasi di berbagai kondisi lahan,” kata Prof. Waluyo Handoko, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas Unsoed.
Unsoed juga aktif dalam mendukung pemanfaatan lahan payau untuk produksi pangan. Dengan luas lahan payau mencapai 4.000 hektare, Unsoed melakukan berbagai penelitian dan pendampingan untuk memaksimalkan potensi lahan tersebut.
Selain itu, Unsoed terus memperkuat riset pertaniannya, khususnya di wilayah Karesidenan Banyumas, dengan target menjadi pusat riset utama di daerah tersebut. Sebagai bentuk dukungan akademik, Unsoed juga membagikan katalog buku kepakaran yang memuat berbagai hasil riset dosen dan peneliti terkait pertanian.












