Juli Hardjanto, pengusaha UMKM De’ Youl Batik dari Jawa Tengah ini mempertahankan pesona unik batik monokrom selama hampir 15 tahun. Juli tetap setia pada warna hitam putih yang menjadi ciri khas produk-produk De’ Youl Batik, khususnya batik monokrom Lasem.
Di tengah gempuran batik modern dengan warna-warna cerah, Produk ini telah menjadi favorit bagi para pecinta batik klasik yang menghargai keindahan dan keanggunan dalam kesederhanaan.
De’ Youl Batik telah lama dikenal karena konsistensinya dalam mempertahankan warna hitam putih pada produk-produk batik monokrom Lasem. Juli menyadari bahwa pilihan warna ini bukan sekadar estetika, melainkan sebuah karakteristik yang kuat dan abadi. Batik monokrom dari De’ Youl Batik memiliki identitas yang mudah dikenali dan melekat pada brand ini.
“Iya, saya dari awal konsisten dengan warna hitam putih, mungkin hampir 15 tahun yang lalu saya memulai itu. Sampai sekarang identik kalau mencari warna hitam putih di De’ Youl,” ujar Juli dalam wawancara di acara Indonesia Afrika Parliamentary Forum (IAPF) 2024 di Bali, Minggu, 1 September 2024.
De’ Youl Batik menawarkan berbagai produk dengan harga yang bervariasi, tergantung pada jenis dan kualitas bahan yang digunakan. Produk termurah adalah kain batik cap dengan harga mulai dari Rp250 ribu untuk ukuran 2,10 meter, sedangkan produk paling mahal adalah batik tulis berbahan sutera yang dapat mencapai harga hingga Rp12,5 juta.
“Batik tulis dari Rp2,5 juta sampai Rp12,5 juta, batik tulis itu kita biasanya memakai bahan sutera. Jadi full tulis, jadi ada desain seperti Garuda Wisnu,” jelas Juli.
Juli juga menekankan bahwa harga tinggi pada produk batik tulis bukan tanpa alasan. Proses produksi batik tulis, terutama yang menggunakan bahan sutera, membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar. Sebagai contoh, pengerjaan batik tulis dengan desain klasik seperti Sekar Jagat bisa memakan waktu hingga satu bulan.
“Yang paling lama itu untuk model Sekar Jagat itu tipe klasik. Itu pengerjaan untuk cap saja, pengerjaan mencanting sekitar satu bulan karena agak rumit,” tambahnya.
Acara Indonesia Afrika Parliamentary Forum (IAPF) 2024 di Bali menjadi kesempatan bagi Juli Hardjanto untuk memperkenalkan batik monokrom dan Lasem miliknya ke pasar internasional, khususnya kepada para legislator Afrika. Dalam acara tersebut, Juli diundang oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai perwakilan pengusaha UMKM yang memproduksi batik berkualitas tinggi.
“Kalau target, ini kita ditunjuk sebagai produk yang unggulan. Saya sendiri sebagai pembuat atau pengusaha batik monokrom, dan batik Lasem,” kata Juli.
Dengan dua stan UMKM batik yang disediakan di acara tersebut, Juli berharap batik monokrom dan Lasem dari De’ Youl Batik dapat dikenal lebih luas dan menjadi oleh-oleh khas yang diminati oleh para legislator Afrika.











