Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) berkolaborasi dengan Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Bank Jateng memberdayakan warga sekitar Rawa Pening dengan mengubah eceng gondok—yang selama ini dianggap gulma—menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti bio briket (bahan bakar alternatif) dan paving blok ramah lingkungan. Program ini diresmikan melalui penyerahan bantuan alat pengolahan dan pelatihan di kawasan Rawa Pening, Banyubiru, Senin (27/5).
Eceng Gondok: Ancaman yang Disulap Jadi Peluang
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi, mengungkapkan, pertumbuhan eceng gondok di Rawa Pening mencapai 1 meter persegi hanya dalam 21-28 hari. Data BBWS Pemali-Juwana menunjukkan, upaya pembersihan telah dilakukan sejak 2020 dengan luas areal yang dibersihkan terus menurun:
-
2020: 550 hektare
-
2021: 450 hektare
-
2022: 200 hektare
-
2023: 130 hektare
-
2024: 263,5 hektare
“Meski pembersihan rutin dilakukan, pertumbuhannya terlalu cepat. Karena itu, kami bantu warga mengolahnya menjadi produk berguna agar tak sekadar dibuang,” ujar Luthfi.
Inovasi UNS: Dari Gulma ke Paving Blok Ekspor
Fakultas Teknik UNS telah mengembangkan teknologi sederhana untuk mengeringkan dan memadatkan eceng gondok menjadi bahan baku paving blok dan bio briket. Wakil Rektor UNS, Irwan Trinugroho, menjelaskan, eceng gondok kering dicampur semen dan pasir dengan komposisi tertentu untuk menghasilkan paving blok yang kuat dan tahan air. Sementara bio briketnya dapat digunakan sebagai alternatif kayu bakar atau bahan bakar industri kecil.
“Bahan bakunya melimpah dan gratis. Jika diproduksi massal, ini bisa jadi sumber pendapatan baru bagi warga,” kata Irwan. Program ini merupakan turunan dari Nota Kesepahaman (MoU) Pemprov Jateng-UNS yang ditandatangani awal 2024.
Dari Kerajinan Tangan hingga Pasar Ekspor
Selama ini, warga sekitar Rawa Pening telah memanfaatkan eceng gondok untuk kerajinan seperti tas, tempat tisu, dan mebel. Sebagian produk bahkan menembus pasar ekspor. Namun, menurut Luthfi, inovasi paving blok dan bio briket bisa menambah nilai ekonomi sekaligus mengurangi volume eceng gondok lebih signifikan.
“Ini kreativitas yang patut disyukuri. Semakin banyak eceng gondok diolah, semakin ringan beban lingkungan,” ucapnya.
Dukungan Bank Jateng dan Pelatihan Warga
Bank Jateng terlibat dalam pendanaan alat pengolahan seperti mesin pencacah, press hidrolik, dan oven pengering. Pelatihan teknis diberikan kepada 150 warga dari 10 desa sekitar Rawa Pening. “Kami juga membuka akses permodalan lunak bagi UMKM yang ingin mengembangkan produk ini,” kata perwakilan Bank Jateng.
Target: Kurangi Eceng Gondok 40% dalam Setahun
Pemprov Jateng menargetkan inisiatif ini mampu mengurangi volume eceng gondok di Rawa Pening hingga 40% dalam setahun, sekaligus meningkatkan pendapatan warga minimal Rp 500.000 per bulan dari penjualan produk turunan. “Ke depan, paving blok eceng gondok akan kami uji untuk proyek infrastruktur desa,” tambah Luthfi.












