Yudi Indras Wiendarto. (foto ashar alhadi)
SURAKARTA – Support system bagi Kaum Milenia Gen Z perlu menjadi perhatian pemerintah. Demikian disampaikan Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jateng Yudi Indras Wiendarto dalam kegiata ‘Dialog Empat Pilar Kebangsaan’ dengan tema ‘Kesiapan & Partisipasi Gen Z dalam Menghadapi Era Society 5.0,’ yang digelar di Hotel Solia Zigna Kota Surakarta, Selasa (5/12/2023).
Dalam dialog itu, Yudi mengatakan Generasi Z atau yg biasa disebut Gen Z sekarang lebih cerdas dengan daya dukung teknologi Ai sehingga mereka lebih cepat mendapatkan informasi dan resource yang memadai untuk menjadi sangat kreatif dan inovatif. Menurut dia tantangan pemerintah saat ini adalah bagaimana cara memahami pola pikir Gen Z dengan norma-norma hukum adat istiadat yang ada di Indonesia serta peran orang tua untuk terbuka dan melek teknologi.

“Misal trend yang ada di Eropa saat ini apa, apakah Trend disana bisa tidak di terapkan di Negara Indonesia ini dengan norma-norma hukum yg berlaku. Nah, peran orang tua untuk mendidik anak-anak Gen Z ini sudah dapat mengimbangi juga belum. Hal itu yang dapat menjadikan gap. Memang betul, norma-norma termasuk norma agama adat dan lain-lain itu sangat penting. Maka dari itu, selain memfasilitasi yang saat ini sudah dilakukan pemerintah daerah, orang tua juga harus harus ikut mengimbangi teknologinya,” katanya.
Sementara, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga & Pariwisata Provinsi Jateng Agung Hariyadi mengaku selama ini pihaknya sudah memfasilitasi anak muda. Terutama, Gen Z dengan membangun ruang ekonomi kreatif.

“Seperti pelatihan mengenai ekonomi kreatif, memberikan ruang anak muda Gen Z di hetero space Surakarta. Itulah yang kami dorong tentang menciptakan lapangan pekerjaan karena anak muda itu cenderung tidak mau diatur. Nah, dari situ kita bangun ruang ekonomi kreatif supaya anak muda ini menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kurangnya pemerintah sekarang itu hanya sosialiasi literasi mengenai norma-norma di negara Indoensia. Kita (masih) punya benteng tidak seperti di negara-negara lain yang cenderung bebas,” kata Agung.
Narasumber lainnya, Kevin Sadewa selaku Tokoh Pemuda Gen Z menambahkan anak muda Gen Z kini siap menghadapi perkembangan zaman. Peran pemerintah dan orang tua seringkali membatasi.

“Seperti yang sedang trend saat ini, Tiktok Shop yang trendnya saat ini memang memajukan ekonomi dengan jualan jalur online, kenapa tidak diperbolehkan. Nah, hal seperti itu yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman yang akan susah untuk meningkatkan daya ekonomi kreatif bagi anak muda. Semoga ke depan pemerintah, selain menjadi wadah untuk lebih mempermudah secara regulasi di jaman digital sekarang, orang tua pun harus lebih mengikuti perkembangan teknologi. Bila perlu, dari segi pendidikan ada kurikulum baru di tingkat pendidikan mengenai pemanfaatan teknologi supaya mendongkrak ekonomi kreatif,” harap Kevin. (ashar/ariel)
Yudi Indras Wiendarto. (foto ashar alhadi)
SURAKARTA – Support system bagi Kaum Milenia Gen Z perlu menjadi perhatian pemerintah. Demikian disampaikan Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jateng Yudi Indras Wiendarto dalam kegiata ‘Dialog Empat Pilar Kebangsaan’ dengan tema ‘Kesiapan & Partisipasi Gen Z dalam Menghadapi Era Society 5.0,’ yang digelar di Hotel Solia Zigna Kota Surakarta, Selasa (5/12/2023).
Dalam dialog itu, Yudi mengatakan Generasi Z atau yg biasa disebut Gen Z sekarang lebih cerdas dengan daya dukung teknologi Ai sehingga mereka lebih cepat mendapatkan informasi dan resource yang memadai untuk menjadi sangat kreatif dan inovatif. Menurut dia tantangan pemerintah saat ini adalah bagaimana cara memahami pola pikir Gen Z dengan norma-norma hukum adat istiadat yang ada di Indonesia serta peran orang tua untuk terbuka dan melek teknologi.

“Misal trend yang ada di Eropa saat ini apa, apakah Trend disana bisa tidak di terapkan di Negara Indonesia ini dengan norma-norma hukum yg berlaku. Nah, peran orang tua untuk mendidik anak-anak Gen Z ini sudah dapat mengimbangi juga belum. Hal itu yang dapat menjadikan gap. Memang betul, norma-norma termasuk norma agama adat dan lain-lain itu sangat penting. Maka dari itu, selain memfasilitasi yang saat ini sudah dilakukan pemerintah daerah, orang tua juga harus harus ikut mengimbangi teknologinya,” katanya.
Sementara, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga & Pariwisata Provinsi Jateng Agung Hariyadi mengaku selama ini pihaknya sudah memfasilitasi anak muda. Terutama, Gen Z dengan membangun ruang ekonomi kreatif.

“Seperti pelatihan mengenai ekonomi kreatif, memberikan ruang anak muda Gen Z di hetero space Surakarta. Itulah yang kami dorong tentang menciptakan lapangan pekerjaan karena anak muda itu cenderung tidak mau diatur. Nah, dari situ kita bangun ruang ekonomi kreatif supaya anak muda ini menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kurangnya pemerintah sekarang itu hanya sosialiasi literasi mengenai norma-norma di negara Indoensia. Kita (masih) punya benteng tidak seperti di negara-negara lain yang cenderung bebas,” kata Agung.
Narasumber lainnya, Kevin Sadewa selaku Tokoh Pemuda Gen Z menambahkan anak muda Gen Z kini siap menghadapi perkembangan zaman. Peran pemerintah dan orang tua seringkali membatasi.

“Seperti yang sedang trend saat ini, Tiktok Shop yang trendnya saat ini memang memajukan ekonomi dengan jualan jalur online, kenapa tidak diperbolehkan. Nah, hal seperti itu yang tidak dapat mengikuti perkembangan zaman yang akan susah untuk meningkatkan daya ekonomi kreatif bagi anak muda. Semoga ke depan pemerintah, selain menjadi wadah untuk lebih mempermudah secara regulasi di jaman digital sekarang, orang tua pun harus lebih mengikuti perkembangan teknologi. Bila perlu, dari segi pendidikan ada kurikulum baru di tingkat pendidikan mengenai pemanfaatan teknologi supaya mendongkrak ekonomi kreatif,” harap Kevin. (ashar/ariel)











