KOLAM BENIH : Ketua Komisi B Sarno beserta Kepala Balai Budidaya Ikan Air Payau dan Laut Aris Setijono berada di Loka Ngrajek Kabupaten Magelang.(foto: ayuandani/priyanto)
MAGELANG – Loka Ngrajek Kabupaten Magelang secara teknis merupakan salah satu dari 11 Loka pada Balai Budidaya Ikan Air Payau dan Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. Dibangun pada tahun 1960, dengan luas total 5,3 Ha. dan luas kolam 3,5 Ha. Sampai saat ini tetap berorientasi pada penyediaan benih ikan air tawar Warga Berita lain lele, nila merah, nila hitam, tawes, karper, nilem, beong dan grass carp.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Budidaya Ikan Air Payau dan Laut Aris Setijono saat menerima rombongan Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah mengunjungi Balai Pembenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Ngrajek Kabupaten Magelang, Kamis (2/5/2024).
Aris menjelaskan Loka Ngrajek secara administrasi masih berada di bawah Balai Laboratorium Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan berdasarkan Pergub No 47/2018, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.
“Saat ini, di Loka Ngrajek telah menyediakan benih & calon induk unggul / berkualita, melaksanakan kaji terap teknologi perbenihan ikan air tawar, melakukan pengawasan dan pengendalian hama penyakit ikan, hingga melakukan pembinaan teknis perbenihan & budidaya ikan air tawar kepada masyarakat, siswa, mahasiswa & UPR,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi B Sarno mengatakan lahan yang begitu besar harus bisa dimaksimalkan fungsinya. Menurutnya, selama ini temuan maupun inovasi yang dihasilkan dari Balai Benih belum begitu membanggakan. Pihaknya sangat mendorong adanya inovasi dan kreativitas dari pengelola serta dinas terkait untuk menghasilkan benih unggulan. Dengan hasil dari benih unggulan setidaknya turut menjadi salah satu penyokong dari ketahanan pangan.
“Luas lahan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, tadi kami sudah sempet lihat lapangan, kolamnya memang besar tapi kok ikannya sedikit isinya kurang maksmimal, biasanya kita lihat kolam itu ikannya rempuyukan, ini kelihatan kalau kolamnya kosong sedikit ikannya kan jadi sia-sia. Kita evaluasi bersama kalau luasan kolam besar sekiranyaa tidak sulit untuk mencapai target. Harapan kami di Komisi B untuk mendorong perekonomian masyarakat adalah ketersediaan pangan, itu semua bermula dari bagaimana benih yang ada di Jawa Tengah ini,” jelas politikus PDI Perjuangan itu.
Wakil Ketua Komisi B Sri Marnyuni berharap adanya sosialisasi benih ikan agar masyarakat sekitar bisa membeli ikan atau benih di Loka Ngrajek dan tidak membeli di swasta. Menurutnya, hal itu akan sangat berpengaruh dalam meningkatkan profit Loka Ngrajek.(ayu/priyato)
KOLAM BENIH : Ketua Komisi B Sarno beserta Kepala Balai Budidaya Ikan Air Payau dan Laut Aris Setijono berada di Loka Ngrajek Kabupaten Magelang.(foto: ayuandani/priyanto)
MAGELANG – Loka Ngrajek Kabupaten Magelang secara teknis merupakan salah satu dari 11 Loka pada Balai Budidaya Ikan Air Payau dan Laut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. Dibangun pada tahun 1960, dengan luas total 5,3 Ha. dan luas kolam 3,5 Ha. Sampai saat ini tetap berorientasi pada penyediaan benih ikan air tawar Warga Berita lain lele, nila merah, nila hitam, tawes, karper, nilem, beong dan grass carp.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Budidaya Ikan Air Payau dan Laut Aris Setijono saat menerima rombongan Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah mengunjungi Balai Pembenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Ngrajek Kabupaten Magelang, Kamis (2/5/2024).
Aris menjelaskan Loka Ngrajek secara administrasi masih berada di bawah Balai Laboratorium Pengujian Kesehatan Ikan dan Lingkungan berdasarkan Pergub No 47/2018, tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis pada Dinas Kelautan Dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.
“Saat ini, di Loka Ngrajek telah menyediakan benih & calon induk unggul / berkualita, melaksanakan kaji terap teknologi perbenihan ikan air tawar, melakukan pengawasan dan pengendalian hama penyakit ikan, hingga melakukan pembinaan teknis perbenihan & budidaya ikan air tawar kepada masyarakat, siswa, mahasiswa & UPR,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi B Sarno mengatakan lahan yang begitu besar harus bisa dimaksimalkan fungsinya. Menurutnya, selama ini temuan maupun inovasi yang dihasilkan dari Balai Benih belum begitu membanggakan. Pihaknya sangat mendorong adanya inovasi dan kreativitas dari pengelola serta dinas terkait untuk menghasilkan benih unggulan. Dengan hasil dari benih unggulan setidaknya turut menjadi salah satu penyokong dari ketahanan pangan.
“Luas lahan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, tadi kami sudah sempet lihat lapangan, kolamnya memang besar tapi kok ikannya sedikit isinya kurang maksmimal, biasanya kita lihat kolam itu ikannya rempuyukan, ini kelihatan kalau kolamnya kosong sedikit ikannya kan jadi sia-sia. Kita evaluasi bersama kalau luasan kolam besar sekiranyaa tidak sulit untuk mencapai target. Harapan kami di Komisi B untuk mendorong perekonomian masyarakat adalah ketersediaan pangan, itu semua bermula dari bagaimana benih yang ada di Jawa Tengah ini,” jelas politikus PDI Perjuangan itu.
Wakil Ketua Komisi B Sri Marnyuni berharap adanya sosialisasi benih ikan agar masyarakat sekitar bisa membeli ikan atau benih di Loka Ngrajek dan tidak membeli di swasta. Menurutnya, hal itu akan sangat berpengaruh dalam meningkatkan profit Loka Ngrajek.(ayu/priyato)











