Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan meluncurkan Gerakan Sekolah Kelola Sampah Mandiri di seluruh jenjang pendidikan, mulai TK/RA, SD/MI, hingga SMP. Program ini bertujuan membangun budaya peduli lingkungan sejak dini melalui praktik memilah dan mengolah sampah di satuan pendidikan.
Pendidikan sebagai Pintu Perubahan Perilaku
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Mabruri, menegaskan sekolah memegang peran krusial dalam pengelolaan sampah. “Pendidikan adalah pondasi perubahan perilaku. Semua kepala sekolah berkomitmen dukung gerakan ini,” ujarnya Senin (2025). Meski sebagian sekolah sudah memiliki program pengolahan sampah, tantangan seperti keterbatasan lahan, anggaran, dan SDM masih dihadapi, terutama di tingkat TK/RA.
Sekolah Percontohan dengan Insinerator Ramah Lingkungan
Dua sekolah unggulan ditetapkan sebagai pilot project:
-
SMP Negeri 8 Pekalongan: Menggunakan insinerator permanen yang mengurangi emisi asap hingga 80%.
-
SD Negeri Medono 8: Memanfaatkan insinerator modifikasi berbahan drum dengan biaya di bawah Rp1 juta.
Kedua alat ini terbukti efektif menekan volume sampah dan polusi. “Jika biaya produksi bisa ditekan, insinerator bisa direplikasi di semua SMP,” tambah Mabruri.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Dukungan Wali Kota
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid mengapresiasi inisiatif sekolah-sekolah perintis. “Gerakan ini bentuk nyata pembentukan generasi sadar lingkungan. Kami mulai dari TK hingga SMP untuk ciptakan budaya memilah sampah,” tegasnya.
Pada acara pencanangan, dipamerkan karya daur ulang siswa dan diluncurkan video edukasi program Blue Deal Indonesia-Belanda tentang penanganan banjir dan rob.
Tantangan dan Strategi ke Depan
-
Pendekatan kreatif: Edukasi sampah melalui permainan interaktif untuk siswa TK/RA.
-
Pelatihan guru: Peningkatan kapasitas pendidik dalam teknik pengolahan sampah sederhana.
-
Sinergi dengan masyarakat: Melibatkan orang tua dan komunitas dalam program sekolah.
Gerakan ini diharapkan tidak hanya mengurangi sampah di lingkungan sekolah, tetapi juga menciptakan generasi eco-conscious yang membawa perubahan ke tingkat rumah tangga. “Kelak, anak-anak ini akan jadi agen perubahan di keluarga dan masyarakat,” harap Afzan.











