Asian Velues menjadi trending diplatform media sosial X (twitter). Kehebohan podcast youtube totalpolitik saat mengundang standup komedian pandji pragiwaksono yang membahas dinasti politik mendapatkan respond cukup beragam dimedia sosial twitter dan membuat kata “Asian values” seketika menjadi trending topik pada hari kamis 6 juni yang lalu.
Yuk kita kulik bersama apa yang di maksud dengan Asian Value
Arti dari Asian Values
Konsep Asian Values pertama kali muncul satu dekade yang lalu dengan dukungan dari beberapa pemimpin politik Asia seperti perdana menteri singapore lee kuan yew, Perdana menteri Malaysia Mahathir Muhammad.
Ketika itu negara negara Asia menikmati keberhasilan ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi tanpa “individualisme” yang berlebih sebagaimana negara barat. Orang orang Asia melihat negara barat terlalu mengagungkan hak individu secara berlebihan sehingga kehilangan ralasi sosial dengan masyarakat sekitarnya dan ini menghasilkan problem sosial berlebihan.
Berbeda dengan dengan negara barat, orang Asia melihat bahwa Konsensus, harmoni, persatuan, dan kekeluargaan adalah nilai -nilai dan esensi budaya serta identitas Asia.
Menurut Hoon Chang Yau, seorang profesor di Universitas Brunei Darussalam, dalam makalah 2004. Ada empat poin penting dalam Asian Value yaitu.
Pertama, hak asasi manusia tidak universal dan tidak dapat diglobalisasi. Kedua, masyarakat Asia tidak berpusat pada individu tetapi pada keluarga. ketiga dibangun di atas yang kedua, di dalam masyarakat Asia peringkat hak sosial dan ekonomi atas hak -hak politik individu. Keempat, hak negara untuk menentukan nasib sendiri mencakup yurisdiksi domestik pemerintah atas hak asasi manusia.
Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dalam sebuah pidato di Cina pada tahun 1993 pernah mengatakan bahwa hak asasi manusia adalah “alat yang digunakan pemerintah Barat untuk menumbangkan negara -negara Asia”.
Kritik Terhadap Asian Values
Banyak intelektual barat menilai bahwa beberapa pemerintah Asia menggunakan retorika nilai-nilai Asia untuk tujuan yang mementingkan diri sendiri.
Yu Ying-Shih seorang sejarawan dari Amerika mentakan bahwa Asian Value adalah pedang bermata dua dimana salah satunya adalah untuk menekan kebebasan berbicara dan hak asasi manusia adalah” nilai-nilai Barat “yang tidak dapat diterapkan oleh masyarakat Asia.
Acap kali Asian Value juga digunakan sebagai alat pembenar terhadap nepotisme sebagaimana dalam podcast totalpolitik dan panji pragiwaksono. Nepotisme sering dianggap sebagai sebuah kewajaran di Asia, mengingat pentingnya ikatan keluarga dalam masyarakat Asia. Bahkan sebagian masyarakat menganggap nepotisme sebagai sebuah kewajiban dan tanggung jawab moral dalam keluarga untuk membangun ikatan dan solidaritas dalam keluarga.











