Mahasiswa Fapet Berbagi Pengalaman Selama Ikuti Japan Internship Program

Hijab

[unsoed.ac.id, Sen, 13/11/23] Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet UNSOED) menyerahkan sertifikat magang kepada dua mahasiswa Fapet yang telah menyelesaikan Japan Internship Program 2022 Batch 3, Rabu (8/11) di ruang Dekan Fapet Unsoed. Kedua mahasiswa tersebut mengikuti program ini selama 12 bulan di ABE Farm, shibecha hokkaido, Jepang.

Dekan di damping Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan & Alumni, Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, MP, IPU menyerahkan sertifikat secara simbolis kepada, Namira dan Alisa Ramdani, yang telah kembali ke Indonesia setelah selesai mengikuti program magang dari tanggal 29 Juni 2022 sampai 23 Mei 2023. Program magang ini terlaksana atas kerja sama Warga Berita Unsoed, dengan LPK Kokorono Siji.

Mereka berpartisipasi dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), menjalani magang selama dua semester di Jepang bersama dengan 44 mahasiswa Unsoed dari Fakultas yang berbeda. Program ini memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan pengalaman praktis di industri peternakan internasional, sekaligus mengakumulasikan kredit pada kurikulum MBKM.

Dekan Fapet Unsoed, Prof. Dr. Ir. Triana Setyawardani, S.Pt, MP, IPU, menyampaikan kebanggaannya terhadap prestasi kedua mahasiswa tersebut. “Partisipasi mereka dalam program Internship di ABE Farm di Jepang adalah langkah besar dalam pengembangan keterampilan praktis dan pengetahuan di bidang peternakan. Ini juga sejalan dengan semangat Kampus Merdeka yang kita terapkan di UNSOED,” terang dekan.

Lebih lanjut Dekan mengatakan, selama program magang di Jepang, mahasiswa Fapet Unsoed tidak hanya mendapatkan wawasan mendalam tentang praktik peternakan modern, tetapi juga terlibat dalam proyek-proyek inovatif di ABE Farm. Mereka berinteraksi dengan peternak lokal, ilmuwan, dan praktisi industri untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang berbagai aspek peternakan.

Kembali ke Indonesia, kedua mahasiswa ini diharapkan dapat berkontribusi positif dalam pengembangan sektor peternakan nasional. Prestasi mereka juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain di Fapet Unsoed untuk mengikuti jejak mereka dalam mengeksplorasi peluang pendidikan dan pengembangan karir di luar negeri.

Selain itu, Prof. Triana menegaskan komitmen Fapet Unsoed dalam mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Program ini tidak hanya memberikan fleksibilitas kepada mahasiswa untuk mengeksplorasi minat mereka, tetapi juga memberikan peluang bagi mereka untuk mengasah keterampilan dan pengetahuan melalui pengalaman praktis di berbagai lingkungan belajar, termasuk di luar negeri.

Peserta magang jepang Namira menuturkan, selama proses magang, banyak sekali ilmu serta pengalaman yang didapat. Selain sebagai pembelajaran dalam memanajemen sebuah peternakan, kami juga dinaungi untuk belajar menjadi pribadi yang profesional dan lebih menghargai proses dan usaha. Ilmu yang didapatkan juga tidak sebatas peternakan saja, bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dalam hal gaya hidup dan budaya Jepang juga menjadikan pandangan kami lebih luas.

“Bertemu dengan orang-orang di Abe Farm merupakan salah satu hal yang paling berkesan karena mereka dapat menerima kami dengan baik dan membimbing kami dan menjadikan kami lebih nyaman dalam bekerja. Rasa lelah tentu ada, tapi dengan hangatnya atmosfer yang dibangun bersama pekerja lain, satu tahun tersebut menurut saya pribadi adalah tahun paling berkesan selama menjadi seorang mahasiswa,” ungkap Namira.

Namira sangat berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah memberikannya kesempatan untuk mengembangkan diri sehingga lebih siap untuk terjun ke dunia kerja. “Harapannya program ini dapat terus dilanjutkan agar membukakan jalan yang lebih luas untuk mahasiswa Fapet Unsoed yang lebih bervalue dan bermodalkan pengalaman luar biasa sebagai seorang mahasiswa.” ujar Namira.

Sementara itu, Alisa Ramdani mengatakan, selama di Jepang banyak manfaat yang diperoleh, praktik langsung dari ilmu yang didapat tentang perbedaan teknologi peternakan di Jepang yang mayoritas sudah menggunakan teknologi berbasis sensor. “Sedangkan di Indonesia kebanyakan hanya perusahaan besar saja yang sudah menerapkan teknologi tersebut, kemudian melewati 4 musim yang tidak ada di indonesia, mengenal budaya Jepang dan tentunya pengalaman kerja internasional,” kata Alisa. (psifapet)

#unsoedmajuterus

#merdekamajumendunia

By admin

Leave a Reply