Jalur Gaza Tidak Hanya Umat Islam, Tapi Umat Kristen Juga


Warga Berita, JAKARTA — Pada 20 Oktober lalu, bom tentara zionis Israel telah menghancurkan Gereja Santo Porphyrius. Serangan bom penjajah Israel menewaskan sedikitnya 18 orang dari ratusan Muslim dan Kristen yang saat itu sedang berlindung di gereja tertua di Jalur Gaza tersebut.

Gereja Santo Porphyrius selama ini menjadi saksi sejarah hubungan harmonis antara Muslim dan Kristen Palestina. Bahkan, gereja yang dibangun sejak dua ribu tahun lalu tersebut tetap terjaga hingga di bawah kekuasaan Islam.

Juru bicara Gereja Santo Porphyrius, Kamel Ayyad, menyebut mayoritas jemaatnya berasal dari Gaza sendiri. Sisanya adalah mereka yang mengungsi ke Gaza setelah pembentukan paksa negara Israel yang membuat sekitar 700.000 warga Palestina terusir pada 1948. Sebuah peristiwa yang mereka sebut sebagai Nakba atau “malapetaka”.

Umat Kristen di Gaza telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini hanya ada sekitar 1.000 orang yang tersisa. Jumlahnya menurun drastis dari 3.000 orang yang terdaftar pada tahun 2007.

‘’Menjadi sangat sulit bagi orang-orang untuk tinggal di sini,” kata Ayyad, seperti dikutip dari laporan Aljazeera, menceritakan salah satu penyebab penurunan jumlah umat Kristen di Gaza.

Baca juga : Beri Dukungan pada Israel, Grab Diboikot di Malaysia

Blokade darat, udara, dan laut yang dilakukan Israel, memaksa warga Kristen akhirnya memilih mengungsi dari Jalur Gaza. Blokade tak berperikemanusiaan dari pemerintah apartheid Israel membuat wilayah Gaza sering dilanda kemiskinan.

‘’Banyak orang Kristen akhirnya pergi ke Tepi Barat, Amerika, Kanada atau negara Arab lainnya,’’ kata Ayyad. ‘’Mereka mengungsi untuk mencari pendidikan dan kesehatan yang lebih baik.’’

Keluwesan Beribadah

Sebagian besar umat Kristen Gaza menganut Kristen Ortodoks Yunani. Sementara sebagian kecil lainnya beribadah di Gereja Kudus Katolik dan Gereja Baptis Gaza.

Ada keluwesan dan keleluasaan dalam komunitas Kristen hidup dan beribadah di Gaza, dengan banyak keluarga yang terdiri dari anggota dari berbagai denominasi. Fadi Salfiti, yang keluarganya mengungsi dari Nablus ke Gaza pada tahun 1948, menghadiri semua peribadatan gereja.

‘’Pada hari Ahad pagi, kami pergi ke gereja Ortodoks. Di sore hari, kami pergi ke gereja Katolik. Dan, pada malam hari, kami pergi ke gereja Protestan,’’ katanya.

Salfiti sedang menghadiri sebuah konferensi pemuda di Madrid ketika Israel melancarkan serangan darat pada tahun 2008. Hingga saat ini, ia masih berada di Spanyol di mana ia bekerja sebagai pelatih manajemen.

Serangan terhadap Gereja Saint Porphyrius menewaskan tiga anak sepupunya. Majd (10 tahun), July (12 tahun), dan Suhail (14 tahun) tewas dalam serang bom Israel yang tak lagi memandang rumah ibadah umat agama apapun.

(dna)

By admin

Leave a Reply